Selasa, 17 Oktober 2017

Hukum Mandi dengan Air yang diruqyah di Toilet/Bathroom

View Article

Ditanyakan kpd fadhilah syaikh Abdul 'Aziz bin Baaz rahimahuLLaah: "Bolehkah mandi dg air yg dibacakan (bacaan ruqyah) di toilet?". Maka jawab beliau: (Iya, mandi dg air yg dibacakan di kamar mandi itu Nggak apa-apa).



Ditanyakan kpd fadhilah syaikh Muhammad bin Shaalih al-'utsaimin rahimahuLLaah: "Bolehkah wanita haidh mandi dengan air ruqyah?", maka beliau menjawab: "Ya, Sy tdk 'melihat' hal tsb sebagai masalah, krn air ruqyah itu bukanlah tulisan Al-Quran dan bukan juga sesuatu yang dianggap dihormati (bagian) dari Al-Quran. Sesungguhnya itu (air ruqyah) itu liur/ludahnya si pembaca yg memberi pengaruh dg izin ALLaah 'azza wa jalla.

Ditanyakan kpd fadhilah syaikh al-muhaqqiq Shaalih bin Abdul 'Aziz Aalu Syaikh: "Apa hukumnya mandi dg air zam-zam dan air yg dibacakan Al-Qur'an di Toilet?", Beliau menjawab: "Itu tidak masalah, krn air itu bukan Al-Quran yang ditulis dan tidak ada di dalamnya mushaf tertulis. Sebetulnya isi di dalamnya adalah (tiupan) ludah dan udara yang mengandung (bercampur) mushaf (quran) atau bacaan.

Dan sebagaimana sudah dimaklumi bhw warga Makkah di era awal dulu, mereka selalu menggunakan air zam zam (utk berbagai keperluan) yg ketika itu bagi mrk nggak ada air lagi selain air zam zam. Maka yg tepat adalah: Tidak ada persoalan (mandi dg air zam zam di toilet/kamar mandi), itu adalah sesuatu yg boleh dilakukan

Minggu, 15 Oktober 2017

Konsekuensi Tauhid

View Article
Tauhid diambil kata dalam bahasa Arab: wahhada-yuwahhidu-tawhid[an]; artinya mengesakan atau menunggalkan. Tauhid satu suku kata dengan kata wâhid (satu) atau kata ahad (esa). Dalam ajaran Islam tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah SWT. Kalimat tauhid ialah kalimat Lâ ilâha illalLâh yang berarti: Tidak ada Tuhan selain Allah. Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT sendiri dalam firman-Nya:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163).


Islam adalah satu-satunya agama tauhid. Artinya, tidak ada agama tahuid selain Islam. Memang, agama Yahudi dan Nasrani sebelumnya juga merupakan agama tauhid. Namun, pada perkembangan selanjutnya, kedua agama ini menyimpang dari ajaran aslinya. Yahudi, misalnya, berpendapat bahwa Uzair adalah anak Allah SWT. Kristen pun berpendapat bahwa Isa al-Masih itu anak Allah SWT. Inilah yang dicela secara tegas oleh Allah SWT dalam al-Quran:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu anak Allah." Orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putra Allah." Demikianlah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling? (TQS at-Taubah [9]: 30).

Dengan demikian agama Yahudi maupun Kristen telah mengalami distorsi (penyimpangan) luar biasa dalam tauhid. Wajarlah jika Allah SWT menegaskan bahwa para penganut agama Nasrani (Kristen) adalah kafir:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ

Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berpendapat bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga. Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa (TQS al-Maidah [5]: 73).

Berdasarkan ayat di atas, konsep trinitas dalam Kristen jelas menyalahi konsep tauhid dalam Islam.

Selain para penganut Kristen, Allah SWT pun memvonis kafir para penganut agama Yahudi maupun kaum musyrik.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sungguh orang-orang kafir itu—baik Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) maupun kaum musyrik—berada di Neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah manusia yang paling buruk (TQS al-Bayyinah [98]: 6).

Karena itu siapapun yang menganggap sama konsep trinitas—atau konsep-konsep dalam keyakinan agama lain—dengan konsep tauhid jelas telah menyimpang dari ketentuan Allah SWT dalam al-Quran. Padahal jangankan manusia secara umum, Rasulullah saw.—yang notabene kekasih Allah SWT—pun “diancam” dengan ancaman keras seandainya beliau memiliki pendapat yang menyimpang dengan apa yang telah Allah SWT gariskan dalam al-Quran.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ . لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ . ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ  .فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ . وَإِنَّهُ لَتَذْكِرَةٌ لِلْمُتَّقِينَ.  وَإِنَّا لَنَعْلَمُ أَنَّ مِنْكُمْ مُكَذِّبِينَ

Andai Muhammad mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami benar-benar akan memegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami akan memotong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu. Sungguh al-Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Sungguh kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kalian ada orang yang mendustakan al-Quran (TQS al-Haqqah [69]: 41-48).

Konsekuensi Tauhid

Ada beberapa konsekuensi tauhid yang harus dipegang teguh oleh setiap Muslim antara lain. Pertama, setiap Muslim harus meyakini betul, tanpa ragu, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Lâ ilâha illâlLâh); sekaligus mengingkari thâghût (segala sesuatu selain Allah SWT). Inilah yang Allah SWT tegaskan dalam al-Quran:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Siapa saja yang mengingkari thâghût dan mengimani Allah, ia berarti telah berpegang pada tali yang amat kuat, yang tidak akan terputus (TQS al-Baqarah [2]: 256).

Seorang Muslim haram menyekutukan Allah SWT atau mengadakan tandingan bagi Diri-Nya. Allah SWT berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

Di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mereka mencintai Allah (TQS al-Baqarah [2]: 165).

Rasulullah saw. juga menegaskan:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَجْعَلُ لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

Siapa saja yang mati, sementara dia mengadakan tandingan bagi Allah, dia masuk neraka (HR Abu Dawud).

Kedua, setiap Muslim wajib mengikhlaskan setiap aktivitas atau amal ibadahnya semata-mata karena Allah SWT.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (TQS al-Bayyinah [98]: 5).

Ketiga, setiap Muslim dituntut hanya menyembah atau mengabdi (ibadah) kepada Allah SWT saja seraya menjauhi thâghût. Dalam al-Quran Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah thâghût itu.” (QS an-Nahl [16]: 36).

Ibadah tentu tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan ritual seperti shalat, shaum, haji, membaca al-Quran, zikir atau doa semata. Ibadah juga wajib diwujudkan dalam bentuk ketaatan total pada seluruh aturan Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang diibadahi. Karena itu seorang Muslim tidak boleh berhukum pada selain hukum Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan pada hukum-hukum atau aturan-aturan yang bertentangan dengan wahyu Allah SWT dianggap sebagai bentuk penyembahan (ibadah) kepada pembuat hukum-hukum atau aturan-aturan tersebut. Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

Mereka telah menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (TQS at-Taubah [9]: 31).

Ketika Rasulullah saw. membaca ayat ini dan didengar oleh Adi bin Hatim (yang saat itu masih bergama Nasrani), Adi bin Hatim berkata, “Sungguh kami tidak pernah menyembah mereka (para pendeta kami).” Rasulullah saw. menanggapi, “Bukankah mereka itu telah mengharamkan apa yang telah Allah halalkan, lalu kalian ikut mengharamkannya? Bukankah mereka itu telah menghalalkan apa yang telah Allah haramkan, lalu kalian pun ikut menghalalkannya?” Adi menjawab, “Benar!” Beliau lalu bersabda, “Itulah wujud penyembahan (ibadah) mereka (para penganut Yahudi dan Nasrani) kepada para pendeta dan para rahib mereka!” (HR at-Tirmidzi).

Keempat, setiap Muslim hanya boleh berhukum dengan hukum Allah SWT; haram berhukum dengan selain hukum-Nya. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Tidakkah patut bagi Mukmin laki-laki dan tidak pula bagi Mukmin perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (QS al-Ahzab [33]: 36).

Allah SWT pun berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah (TQS Yusuf [10]: 40).

Terakhir, setiap Muslim dituntut untuk masuk Islam secara kâffah dengan menjalankan seluruh aturan dan hukumnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Alhasil, konsekuensi tauhid adalah tunduk, patuh dan taat hanya kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh syariah-Nya secara total. Syariah Allah SWT hanya mungkin diterapkan secara total dalam sistem pemerintahan Islam, yakni Khilafah ‘ala minhâj an-Nubuwwah. []

---***---

Hikmah:

Allah SWT berfiman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan akan mengampuni dosa selain syrik bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Siapa saja yang menyekutukan Allah, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata (TQS an-Nisa’ [4]: 116).

Abu Dzarr ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
إِنَّ جِبْرِيلَ أَتَانِي فَبَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Sesungguhnya Jibril pernah datang kepadaku. Ia lalu menyampaikan kabar gembira bahwa siapa saja yang mati di kalangan umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apapun, ia masuk surga (Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubrâ, 10/319).

—***—

Download versi PDF
https://goo.gl/V1bdHB

Selasa, 03 Oktober 2017

Dakwah Di Zaman Millennial

View Article
Dakwah Kami di Zaman Baru

Betul, kalimat di atas adalah sebuah judul Bab dalam buku Risalah Pergerakan yang ditulis oleh Imam Hasan Al-Banna. Mengungkapkan bahwa dakwah Ikhwan senantiasa sesuai dengan semangat zaman.


Zaman baru telah datang. Di mana dunia nyata dilipat menjadi seolah menyatu dengan dunia maya. Generasi baru telah lahir. Generasi yang mencerna dunia melalui layar LCD (liquid crystal display), atau AMOLED.

Ini adalah zaman dimana realitas menjadi citra. Dan citra menjadi realitas. Bukan saja zaman digital.. tapi digital millennial. Zaman digital yang menyatu dengan generasi millennial.

Di zaman ini, kita membutuhkan medium dakwah yang sesuai dengan semangat zaman. Sebagaimana Hasan Al-Banna di awal dakwahnya menggunakan medium kedai kopi, dan di masa berikutnya menggunakan koran, majalah, dan mimbar parlemen.

Medium apa yang sesuai dengan zaman ini? Anda mungkin setuju jika saya sebutkan bahwa foto, desain, video, melalui kanal distribusi media sosial dan media massa, adalah medium dakwah kita di zaman ini.

Mari persembahkan dakwah kita dengan ahsan dan itqan. Melalui medium yang sesuai dengan semangat zaman.





Senin, 02 Oktober 2017

Berdoalah! Doa Itu Mengubah Keadaan

View Article

Kekuatan doa. Ya kekuatan doa, sebuah pengharapan yang bisa membuat keadaan berubah. Seperti cerita hikmah yang akan dipaparkan berikut ini.

Oleh karena itu, doakanlah terus saudara-saudara muslim kita yang sedang tertindas seperti di Rohingya, Palestina, Irak, Suriah, Afghanistan dan di belahan bumi manapun. Doakan juga bangsa kita, bangsa Indonesia pastinya. Doakan agar Indonesia menjadi negara yang kuat, makmur dan sejahtera rakyatnya serta adil pemimpinnya.

Doa bisa membuat terlepasnya mereka dari penindasan kaum kuffar, insha Allah. Jangan letih untuk meminta, jangan letih untuk berdoa dan jangan letih bersandar hanya kepada Allah.

***

True Story kisah tercecer dari pelaksanaan haji tahun 2016

Seorang perempuan tua dari Aljazair menangis di bandara. Ia ketinggalan pesawat yang akan membawanya menunaikan ibadah haji.

Ia menangis karena kerinduannya pada ALLAH dan keinginan untuk menjawab seruan-Nya..

ALLAH mendengar tangisan hamba-Nya. Diantara Aljazair dan Jeddah.. diantara langit dan bumi..

Pilot pesawat yang mengangkut jamaah haji itu mendengar suara gemeretak pada mesin pesawat. Hal itu memaksanya untuk kembali memutar pesawat ke Aljazair.

Di bandara, saat seluruh penumpang diturunkan, petugas bandara tidak menemukan ruangan tunggu yang kosong kecuali ruangan tempat dimana perempuan tua itu menangis.

Bisa dibayangkan bagaimana takjubnya ia karena melihat teman2 nya sesama jamaah haji datang kembali seakan datang khusus untuk menjemputnya…

Ia merasa seperti bermimpi..

Dari mulutnya tidak henti2 nya ia mengucapkan kata syukur..

Ajaibnya lagi setelah diperiksa dengan seksama ternyata keadaan pesawat itu baik dan tidak ada kerusakan sama sekali.

Pesawat dengan 200 penumpang itu kembali ke bandara hanya untuk menjemput seorang perempuan tua yang rindu ingin menjawab seruan Tuhan-Nya.

Air mata apa yang ia teteskan sehingga mampu mengetuk pintu langit ??

Keyakinan apa yang ia miliki sehingga mampu merubah jalannya takdir ??

Bila segalanya berlalu darimu, bila semua pintu telah tertutup,tetapi engkau tetap bergantung dan berharap pada ALLAH, maka IA akan selalu ada untukmu.

Kisah ini menjadi bukti bahwa keajaiban doa masih terjadi, dizaman yang bukan zaman Nabi-Nabi..

sumber : postingan di FB

Pesantren Reyot Pencetak Ahli Kitab Kuning

View Article
Bangunan itu sebuah rumah non permanen yang hanya berdindingkan anyaman bambu dan kayu. Atapnya ditutupi genting. Dengan terpaksa, spanduk iklan rokok menutupi lubang atap. Bangunan atau rumah tersebut sebenarnya lebih layak disebut gubuk.






Di depan pintu masuk gubuk tersebut, berpasang-pasang sandal tersusun berjejer dengan rapi. Pemilik dari berpasang-pasang sandal tersebut sedang sibuk di dalam gubuk.


Di hadapan para pemilik sandal itu, sebuah kitab terbuka. Tulisannya pakai huruf Arab, tapi tanpa harakat atau tanda baca, lazim disebut dengan tulisan Arab gundul.

Muhammad Amir Hamzah duduk di jejeran para santri. Ia terlihat sedang asyik dengan kitab Fathul Qarib karya Abu Abdillah Muhammad bin Qosim al-Ghazzi. Meskipun tulisan di dalam kitab tersebut adalah tulisan Arab gundul, Amir tetap lancar membaca dan menerjemahkannya.

Amir menjabarkan i’rab, perubahan harakat di akhir kalimat. Terkadang melafalkan maraji’-nya. Sangat lihai, padahal usianya baru 12 tahun. Kelihaian Amir membaca Arab gundul bukan didapat dengan mudah dan singkat. Bocah 12 tahun yang berasal dari Pulau Karimun Jawa itu sudah menimba ilmu lughoh di pesantren yang berlokasi di Grobogan, Jawa Tengah, itu selama sembilan bulan.

Namun, Amir memang tergolong santri yang cerdas. Kemampuannya dalam membaca dan menerjemahkan kitab tersebut itu berkembang pesat. Para santri pada umumnya membutuhkan waktu minimal tiga tahun agar dapat menjelajahi isi kitab kuning, sebutan lain kitab rujukan keilmuan Islam.

Kemampuan Amir tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran didikan Kiai Amin Fauzan Badri. Setiap pagi, tiap santri harus belajar ‘privat’. Setiap santri belajar “empat mata” dengan sang kiai selama minimal satu jam. Tidak boleh kurang.

“Di sini tidak ada masa pengajian bersama-sama dimulai. Kalau hari ini ada santri datang, berarti besok pagi dia mulai belajar. Jadi, antara satu santri dengan santri lainnya, mulainya beda dan khatamnya juga beda,” kata Kiai Amin kepada kemenag.go.id.

Teknik belajar kitab Arab gundul Kiai Amin ini dikenal dengan nama Al-Iktishor. Kiai Amin ingin berbagi pengalaman merumuskan cara membaca kitab Arab gundul.

“Saya berfikir, bahwa membaca kitab itu mestinya mudah, karena susunan dalam bahasa Arab itu hanya berupa Jumlah Ismiyah dan Jumlah Fi’liyah. Jika dua Jumlah ini dikuasai, semua akan jadi mudah,” kata dia.

Awalnya akan dipelajari pokok susunannya berupa jumlah ismiyah dan fi’liyah. Kemudian selanjutnya dipelajari pelengkapnya, yaitu jar-majrur, fi’il-fail, maf’ul bih, maf’ul muthlaq, dan lain-lainnya.

Kisah Kiai Amin membuat kitab Al-Ikhtisor terbilang cukup menyentuh dan perjuangan yang keras. Awalnya, Kiai Amin menyusun kitab itu dengan penuh perjuangan. Usai men-tashih-kan ke gurunya di Pesantren Mathaliul Fataah, Kajen, Margoyoso, Pati, Kiai Amin muda merasakan kegundahan. Kegundahan yang dirasakan tersebut dikarenakan sang guru meminta Kiai Amin membuka buku catatan Al-Ikhtisor di rumahnya. Kiai Amin pun terlarang membukanya di jalan.

Sesampai di rumah, Kiai Amin terkejut. Semua tulisan tangannya digores tinta merah oleh sang guru yang menandakan bahwa pekerjaan itu salah semua. Akibatnya, Kiai Amin pun sempat patah semangat dan berencana tidak melanjutkan penyusunan kitab itu.

Akan tetapi, ada satu kalimat yang ditulis gurunya di halaman akhir catatan Al-Ikhtisor. Kalimat itu mengurungkan keinginan Kiai Amir menyerah.

” Ada tulisan tangan guru saya tadi, man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” ucap dia.

Semangat inilah yang dia tularkan kepada para santrinya walaupun kondisi fisik pesantren jauh dari memadai.

sumber : ngelmu

Senin, 18 September 2017

Teman Sejati

View Article
Bismillah,

7 Macam Teman ( hanya satu yg akan sampai ke Surga)

1. Ta'aruffan yaitu teman kenal secara kebetulan seperti bertemu dikereta,  halte bus,  Cafe dll.

2. Taariihan yaitu teman karena faktor sejarah seperti teman se kampung,  sekost,  se almamater dll

3. Ahammiyyatan teman karena kepentingan (teman bisnis, politik, dll)

 4. Faarihan yaitu teman karena sehobi (hobi motor, nyanyi,  bola dll)

5. Amalan yaitu teman karena profesi seperti dokter, guru,  dll)

 6. Aduwwan yaitu teman yang terlihat seperti baik tapi sebenarnya penuh kebencian.

7. Hubban Iimaanan yaitu teman yang suka MENGINGATKAN mu serta MENGAJAK mu selalu kejalan Allah SWT.


Dari ke-7 macam teman ini,  no 1-6 akan sirna di akhirat, dan yang tersisa hanya teman nomor 7. Namun, teman nmor 7 ini selalu dipandang sebelah mata,  selalu dinilai sok alim,  juga tidak menghasilkan duniawi,  apalagi urusan materi.
Padahal,  di akhirat nanti teman nomor '7' inilah yng sejatinya 'bermanfaat'

 Allah berfirman : "teman-teman karib pada hari itu (kiamat)  nanti saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yg bertakwa " (Qs.  Az-Zukhruf 67)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : " Bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah,  maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan.   Kecuali persahabatan nya dilandasi cinta karena Allah, inilah yg kekal selamanya. " ( Tafsir Ibnu Katsir)

Semoga Allah SWT bisa mengumpulkan kita di akhirat didalam Jannah Firdaus-Nya. Aamiin Allahuma Aamiin...

Semoga bermanfaat

Senin, 11 September 2017

Dahsyatnya Panggilan Sayang

View Article
Dahsyatnya panggilan SAYANG

 Bismillahirrahmanirrahim
“Hallo selamat pagi, sayang?”. Bukankah kalimat tersebut terdengar manis dan hangat di telinga Anda? Panggilan “Sayang”, menurut peneliti, memiliki efek positif signifikan di otak wanita.

Panggilan mesra tersebut efektif dalam melepas hormon oksitosin di tubuh wanita yang menghasilkan perasaan bahagia dan hangat.
Selain itu, wanita yang sering dipanggil “Sayang”, ditemukan jarang mengalami stres dan lebih ikhlas dalam menghadapi segala tantangan hidup.

Oleh karena itu, “Sayang” dianggap sebagai kata positif yang memberikan dampak baik pada wanita. Menurut paparan di Psychology Today, panggilan “Sayang” pada wanita menciptakan perasaan aman dan nyaman. Mereka pun jadi lebih percaya diri dalam beraktivitas.

“Sensasi sensual dibalik panggilan ‘Sayang’ menciptakan dopamine yang membuat kecanduan mendengar panggilan tersebut. Lalu, efek neurochemicals seperti oksitosin dan vasotosin, hormon cinta, membantu pasangan untuk membangun hubungan yang penuh cinta, kasih, dan loyalitas,” jelas laporan Psychology Today.

Berdasarkan Tech Knowledge, kata-kata positif dan negatif, memiliki efek terhadap energy tubuh, termasuk semangat dan motivasi.

Orang yang sering mendengar kata “Tidak” cenderung lebih mudah stres, ketimbang mereka yang mendengar kata “Ya” dan “Sayang”.

Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh Harvard Law School mempelajari efek dari kata positif dan negatif.

Menurut studi, gambar-gambar indah yang disertakan kata negatif, akan memberikan pengaruh buruk pada pilihan orang yang melihatnya.

Oleh karena itu, banyak karyawan profesional yang sangat berhati-hati dalam pemilihan kata untuk materi presentasi. Mereka menghindari menggunakan kata negatif, dan menggantinya dengan kata penolakan yang lebih diplomatis.

Wallahu'alam
By. Abah Roqy

Minggu, 10 September 2017

Memahami Persoalan Itu Setengah Dari Jawaban

View Article

Hajar Dulu Baru Konfirmasi

Saya masih ingat betul, ketika ada teman satu kelas dahulu bertanya kepada dosen aqidah; “Ma hukmu as-shalawat al-munjiyat, ya Syeikh?”, Apa hukum dari shalawat munjiyat, wahai Syeikh?.
“Syirik”.
Sebuah jawaban yang singkat, padat, jelas dan tanpa pikir panjang. Tentu jika penanyanya orang awam, hanya akan manggut-manggut saja mengiyakan. Bagaimana tidak, penjawabnya seorang Syeikh Arab yang bahasa Indonesia saja tak bisa, sekaligus seorang dosen akidah.

Redaksi Shalawat Munjiyat

Hanya saja, teman saya ini menanyakan lebih lanjut. “Bukankah tawassul kapada Allah dalam berdoa dengan amal shalih itu sesuatu yang disyariatkan?”
“Maksudnya” Selidik Syeikh tadi.
“Dalam shalawat munjiyat, kita tawassul bukan dengan dzat Nabi tapi dengan shalawat kepada Nabi. Dan shalawat kepada Nabi itu termasuk amal shalih”. Terang teman saya.
kaifa nasshuhu?, bagaimana redaksi shalawatnya?” Tanya dosen kami.
“Redaksinya seperti ini, Syeikh!”
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد، صلاة تنجينا بها من جميع الأهوال والآفات، وتقضي لنا بها جميع الحاجات، وتطهرنا بها من جميع السيئات، وترفعنا بها عندك أعلى الدرجات، وتبلغنا بها أقصى الغايات، من جميع الخيرات في الحياة وبعد الممات، برحمتك يا أرحم الراحمين.
Arti mudahnya, ya Allah! shalawat dan salam tercurah semoga kepada Nabi Muhammad. Sehingga dengan shalawat itu, Engkau selamatkan kami dari segala mara bahaya, dst.
Nah, ternyata belum tahu redaksi shalawatnya sudah menghukuminya dengan “syirik”.

Tawassul dengan Amal Shalih itu Disyariatkan

Menjadi hal yang disepakati para ulama, bahwa salah satu bentuk tawassul dalam do’a yang boleh adalah tawassul  dengan amal shalih. Sebagaimana dahulu cerita 3 orang yang tertutup batu besar ketika sedang berada di goa. (Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), Qaidah Jalilah fi at-Tawassul wa al-Wasilah, h. 305).
Tentu shalawat adalah termasuk salah satu amal shalih, bahkan bukankah doa itu terhalang sebelum dibacakan shalawat?

Dari Syirik ke Bid’ah

idzan, bid’atun”, kalo begitu bid'ah hukumnya.
Ketika mengetahui jawaban teman saya tadi, seketika Syeikh kami mengganti hukumnya menjadi bid’ah.
Alasannya karena model shalawat itu tak diajarkan oleh Nabi Muhammad shallaallah alaihi wasallam.

Membatasi Sesuatu Tanpa Ada Dalil

Hanya saja, benarkah hanya satu redaksi shalawat yang diajarkan Nabi?
Memang benar dahulu Nabi pernah ditanya bagaimana bershalawat kepada Beliau. Haditsnya sebagai berikut:
عن الحكم، قال: سمعت ابن أبي ليلى، قال: لقيني كعب بن عجرة، فقال: ألا أهدي لك هدية خرج علينا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلنا: قد عرفنا كيف نسلم عليك فكيف نصلي عليك؟ قال: «قولوا اللهم صل على محمد، وعلى آل محمد، كما صليت على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد، اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد، كما باركت على آل إبراهيم، إنك حميد مجيد» متفق عليه
“Suatu ketika Nabi keluar kepada kami, lalu kami bertanya, “Kita sudah tahu bagaimana salam kepada Engkau, wahai Nabi. Lantas bagaimanakah kita bershalawat kepada Engkau?.
Jawab Nabi, “Allahumma shalli ala Muhammad, wa ala ali Muhammad, kama shallaita ala ali Ibrahim innaka hamidun majid. Allahumma barik ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kama barakta ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid”. (Muttafaq alaih)
Justru pertanyaannya dibalik, adakah dalil yang membatasi shalawat hanya dengan redaksi itu? Apakah salah dan menyelisihi Nabi jika shalawat tidak dengan redaksi itu?

Nabi Diam Sampai Shahabat Lain Berharap Pertanyaan itu Tak Terlontar

Ternyata para ulama tak ada satupun yang membatasi shalawat hanya dengan redaksi yang diajarkan oleh Nabi. Buktinya, hampir semua kitab turots atau klasik yang kita baca, redaksi shalawatnya sangat beragam.
Bahkan dalam riwayat lain yang shahih juga disebutkan bahwa, ketika Nabi mendapat pertanyaan itu, Nabi diam saja. Sampai para shahabat lain berharap, pertanyaan itu tak terlontar dan ditanyakan kepada Nabi. Disebutkan dalam Shahih Muslim:
عن أبي مسعود الأنصاري، قال: أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن في مجلس سعد بن عبادة، فقال له بشير بن سعد: أمرنا الله تعالى أن نصلي عليك يا رسول الله، فكيف نصلي عليك؟ قال: فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم، حتى تمنينا أنه لم يسأله ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «قولوا اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين، إنك حميد مجيد، والسلام كما قد علمتم» صحيح مسلم (1/ 305) سنن أبي داود (1/ 258) سنن الترمذي ت شاكر (5/ 359)
"Bisyir bin Said bertanya kepada Nabi, “Allah memerintahkan kita bershalawat kepada Engkau. Bagaimana kita bershalawat kepada Engkau, ya Rasulallah?”
Nabi diam saja. Sampai kita berharap Bisyir bin Said tak menanyakan hal itu. Sehingga Rasulullah bersabda: Ucapkanlah; allahumma shalli ala Muhammad... al-hadits.” (HR. Muslim, HR. Abu Daud, HR. At-Tirmidzi).
Tentu banyak tafsiran kenapa Nabi diam saja saat ditanya, dan para shahabat berharap pertanyaan itu tak jadi terlontarkan. Salah satunya adalah shalawat itu luas redaksinya, tak harus ditanyakan dan mengikuti satu redaksi saja. 
Maka, memahami suatu persoalan itu sangat penting sebelum menjawab hukumnya. Banyak orang salah jawab karena salah memahami soal atau pemasalahan.
Banyak kasus bid'ah menjadi perdebatan sengit bukan dalam kaitan dalil ataupun hukumnya. Tetapi lebih kepada perbedaan pemahaman (ta'rif dan takyif syar'i) terhadap sesuatu hal yang baru itu; apakah masuk dalam dalil umum agama sehingga boleh hukumnya atau sudah keluar dari koridor agama sehingga haram.
Termasuk perdebatan siapakah pihak yang paling berhak dan mendapat legitimasi dari Allah subhanahu wa ta'ala memegang serta memberi "stempel" bid'ah yang haram terhadap suatu hal yang baru. Waallahu a'lam bisshawab. *Sumber rumahfiqih