Tuesday, 19 December 2017

Menumbangkan Ego

Suatu saat, Nabi Musa ditanya oleh kaumnya, tentang siapakah orang yang paling alim. Beliau menjawab bahwa beliau lah orang paling berilmu.


Tidak mengherankan sebenarnya jawaban ini, karena beliau adalah Ulul Azmi, beliau juga berbicara langsung dengan Alloh, beliau menerima Kitab Taurat. Jika kita lihat di Al Qur'an, Nama beliau disebut tidak kurang dari 300 kali.

Akan tetapi mungkin Alloh punya kehendak lain. Dan Nabi Musa ditegur oleh Alloh.

Rasulullah Saw. bersabda, "Sesungguhnya Musa berdiri berkhotbah di hadapan kaum Bani Israil, lalu ia bertanya kepada mereka, 'Siapakah orang yang paling alim (berilmu)?' (Tiada seorang pun dari mereka yang menjawab), dan Musa berkata, 'Akulah orang yang paling alim'." Maka Allah menegurnya karena ia tidak menisbatkan ilmu kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepadanya, "Sesungguhnya Aku mempunyai seorang hamba yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan, dia lebih alim daripada kamu." Musa bertanya, "Wahai Tuhanku bagaimanakah caranya saya dapat bersua dengannya?" (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Kahfi 60-82)


Maka perjalanan itu dimulai.

Perjalanan melelahkan untuk menapaki ilmu baru.

Beliau bertemu dengan Nabi Khidir.

Perhatikan lah betapa tawadhu nya Nabi Musa dihadapan Nabi Khidir.
Nabi yang mulia ini mengatakan....

Allah SWT berfirman:

قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى  اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
"Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 66)

Nabi Khidir pun menjawab dengan ketawadhuan yang luar biasa..

Hai Musa, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku, sedangkan kamu tidak mengetahuinya; dan kamu mempunyai ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, sedangkan saya tidak mengetahuinya. (Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Kahfi 60-82)

Sahabat....

Saat  tawadhu bertemu dengan tawadhu. Masing masing saling memuliakan bahkan saling merendah. Hingga Nabi Musa pun mengatakan dengan kesungguhan dan kejujurannya...

قَالَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَابِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا
"Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)

Perjalanan kisah beliau berdua berakhir dengan perpisahan....

Allah SWT berfirman:

قَالَ هٰذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ   ۚ  سَاُنَـبِّئُكَ بِتَأْوِيْلِ مَا لَمْ تَسْتَطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
"Dia berkata, Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 78)

Mungkin kita menganggap bahwa Nabi Musa telah gagal dalam proses belajar bersama Nabi Khidir.

Benarkah???


Tentu ada hikmah dibalik perjalanan nabi Musa ini, meski proses belajar seolah kandas.

Sahabat.....

Perhatikan lah awal mula teguran Alloh kepada Nabi Musa.

Mungkin disitulah tujuan utama pengembaraan Nabi Musa dalam mencari Nabi Khidir.

- Mungkin beliau "gagal' bersabar.

- Mungkin beliau "gagal' menguasai ilmu hikmah yang diajarkan nabi Khidir..

Tetapi Nabi Musa telah mengajarkan hal sangat penting kepada kita.

Yakni  membuang ego, merendah, tawadhu thd ilmu, menyadari luasnya Ilmu Alloh, mengakui kelebihan orang lain dan pada saat yang sama menyadari sisi kelemahan diri.


Mungkin memang beliau "gagal" bersabar, tetapi beliau telah berhasil 'mengalahkan" ego diri sendiri, berjalan jauh untuk belajar pada seseorang.

_Terkadang mimpi tidak harus menjadi nyata, tetapi perjalan menuju mimpi adalah hikmah tarbiyah Alloh atas diri kita. Dan tarbiyah itu mungkin jauh lebih berharga dari apa yang telah kita mimpikan sepanjang waktu._

Bahkan terkadang, sebenarnya Alloh sedang mempersiapkan kita untuk hal hal lain yang jauh lebih besar.

Dan perjalanan menuju mimpi itulah bekalnya untuk menghadapi hal besar yang akan terjadi.

Jika bekal ini tidak kita miliki mungkin kita akan tumbang bersama waktu.

Nabi Musa kemudian menghadapi hal hal besar setelah kisah ini. Beliau harus berhadapan dengan ayah angkat nya sendiri yang sangat kejam. Beliau juga harus menghadapi para penyihir Fir'aun. Dan beliau harus menghadapi masa kritis dan genting hingga peristiwa besar terbelahnya lautan.

Semua peristiwa peristiwa besar ini harus beliau jalani, dan ternyata ketawadhuan, berani membuang ego, mengakui kekurangan diri, mengakui kelebihan orang lain adalah bekal yang sangat bermanfaat dalam perjalanan di kemudian hari.

Perintah dakwah pun turun,

 Allah SWT berfirman:

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ  طَغٰى
"Pergilah kepada Fir'aun; dia benar-benar telah melampaui batas."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 24)


Lihatlah ketawadhuan itu pun muncul kembali, sesaat setelah titah itu datang...

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ  
"Dia (Musa) berkata, Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 25)

Allah SWT berfirman:

وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ  
"dan mudahkanlah untukku urusanku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 26)

وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِیْ  
"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 27)

يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
"agar mereka mengerti perkataanku,"
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 28)

Beliau menyadari sisi lemah dalam diri dan mau mengakui kelebihan saudaranya. Tidak hanya itu, beliau dengan kesungguhan ingin berdakwah bersama saudaranya.

Allah SWT berfirman:

وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْاً  يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖ  اِنِّيْۤ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ
"Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku."
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 34)

Sahabat sekalian....

_Terkadang terlalu banyak benturan hadir dalam hidup, kadang terlalu banyak duri yang terinjak, kadang terlalu banyak peluh dan keringat yang menetes, dan kadang harus ada luka yang perih.

_Tapi ketahuilah bahwa dalam benturan benturan itu, mungkin Alloh hendak mempersiapkanmu untuk peristiwa peristiwa yang jauh lebih besar.

Jika hal besar itu benar benar telah hadir dihadapanmu, segeralah letakkan ego...

-Sadarilah kelemahan diri..

- Syukurilah kelebihan orang lain...

_Dan gandenglah ia bersama menempuh jalan itu, meski engkau lebih baik darinya...

_Karena Alloh takdirkan bersama kelebihan kita ada kelemahan..

_Kita selalu butuh orang lain untuk menyelesaikan jalan hidup kita..

_Letakkan lah ego agar badai dan gelombang itu tidak membuatmu tumbang dan kandas ditengah jalan....

Baarakallohu fiikum


M. Nadhif Khalyani

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.