Friday, 2 February 2018

Jiwa Pemaaf Rosulullah Kepada Sahabat Yang Berjasa

Ketika Rasulullah  bersama kaum Muslimin bersiap sedia menjelang “Fathu Mekah”. Hatib bin Abi Balta’ah telah menulis surat kepada penduduk Mekah untuk memberitahu mereka tentang hal itu. 
Dia menyatakan kepada mereka :
“Sesungguhnya Muhammad ingin memerangi kamu, maka hati-hatilah kamu sekalian”.
Surat itu dikirim melalui seorang wanita yang sedang dalam perjalanan ke Mekah bernama Zha’inah.

Lalu Allah  menurunkan wahyu kepada Rasulullah  menerangkan hal pembocoran rahasia tersebut.
Rasululullah  segera memanggil Ali, Zubair dan Miqdad dengan sabdanya :
“Segera kamu sekalian berangkat ke sebuah tempat Raudhah Khak, kerana di sana ada Zha’inah (wanita musafir) yang membawa surat, maka ambillah darinya kemudian bawa surat itu ke mari”.

lafal Muhammad SAW-oaseiman

Selepas itu kami segera pergi, sehingga ketika sampai ke Raudhah kami pun memjumpai wanita tersebut.
Kami berkata kepadanya :
“Keluarkanlah surat itu”.
Ia menjawab :
“Surat apa, saya tak bawa apa-apa surat pun”.
Kami berkata :
“Betul kamu tidak membawa apa-apa surat! kamu mau berikan surat itu atau kami tanggalkan pakaianmu”.
Akhirnya dalam ketakutan, dia pun mengeluarkan surat itu dari sanggulnya.
Kami pun terus mengambil surat tersebut dan segera pulang ke Madinah dan menyerah surat itu kepada Rasulullah.

Tenyata surat itu berbunyi :
‘Dari Hatib bin Abi Balta’ah, ditujukan kepada sekelompok manusia dari orang-orang musyrik di Mekah…dan seterusnya’. Antara isi kandungannya memberitahu mereka tentang sebahagian dari rahsia Nabi Lalu Rasulullah S.A.W memanggil Hatib dan berkata :
“Wahai Hatib! apa yang telah kamu lakukan ni?”
Hatib menjawab :
“Wahai Rasulullah!
Janganlah Engkau tergesa-gesa menuduhku.
Sesungguhnya aku seorang yang sangat rapat hubungan dengan Quraisy, dan bukankah aku termasuk orang yang terbaik di antara mereka, dan di antara orang yang bersamamu dari orang-orang Muhajirin, mereka mempunyai kaum kerabat dan mereka ingin menjaga keluarga dan harta mereka.
Maka aku adalah seorang yang ingin memelihara kerabatku.
Aku tidak melakukan hal ini kerana kafir atau murtad dari agama Islam.”

Lalu Umar bin al Khatab mencelah dengan berkata :
 Wahai Rasulullah!
“Izinkan aku memenggal leher si munafik ini”.
Rasulullah menjawab dengan sabdanya :
“Wahai Umar, sesungguhnya dia terlibat dengan peperangan Badar.
Apa yang kamu ketahui hai Umar?
Mudah-mudahan Allah mengetahui ahli Badar.”
Lalu Rasulullah  bersabda :
“Wahai ahli Badar! Buatlah apa yang kamu suka, sesungguhnya aku telah memaafkan kalian.”

Maka turunlah firman Allah  yang bermaksud :
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh Ku dan musuh mu menjadi teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita Muhammad) kerana alasan rasa kasih sayang, pada hal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu kerana beriman kepada Allah, Rabbmu, jika kamu benar-benar keluar berjihad di jalan-Ku dan mencari keredhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian) kamu memberitahu secara rahsia berita Muhammad kepada mereka, kerana kasih sayang.
Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan yang kamu nyatakan, dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus”.
(Al Mumtahanah : ayat ke-1)

Sesungguhnya banyak pengajaran yang kita pelajari dari peristiwa ini.
Ia memberi penjelasan kepada kita bagaimana tarbiyah Rasulullah melalui berbagai peristiwa yang berlaku. Rasulullah adalah seorang pemimpin dan murabbi yang agung.

Kita dan umat mungkin merasa terkejut dengan tindakan Hatib, pada hal dia seorang sahabat generasi pertama dan ahli Badar.
Itulah hakikat jiwa manusia, kadang-kadang mengalami saat-saat lemah atau futur.
Sekali pun telah mencapai kekuatan iman, kemungkinan keliru dan lalai tetap saja ada.
Hanya Allah saja yang tidak yang tidak pernah salah, dan hanya Allah yang Memberi pertolongan.

IBRAH :1. Setiap manusia tidak lepas dari khilaf, termasuk para sahabat
2. Rasulullah dalam memberi hukuman tidak saja melihat tingkat kesalahannya, tapi melihat jasa jasa nya dalam perjuangan
3. Rasulullah memiliki jiwa pemaaf kepada sahabat sahabatnya, terutama Ahlu Badr

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.