Wednesday, 7 November 2018

Demi Jilbab, Saya Memilih Menjadi Tukang Bersih-Bersih

View Article
Dalam salah satu kesempatan mengisi diskusi di grup WhatsApp mengenai jilbab, saya menceritakan kisah perjuangan para muslimah di sini, Polandia, dimana kebanyakan dari mereka adalah sister mualaf. Salah satu sister yang dekat dengan saya adalah Sister Cahaya.

Perjuangan dan keteguhannya memegang identitas sebagai seorang Muslimah, kadang membuat saya menangis terharu hingga saya tidak berhenti mengucap kalimat tahmid dan takbir.

Setelah ujian perihal mantan suaminya, Sister Cahaya masih terus berjuang dalam kondisi keluarga yang prihatin dan mencari pekerjaan dengan kondisi tetap berhijab. Pekerjaan sebelumnya sebagai nanny (pengasuh) dengan kondisi berjilbab membuatnya tak lagi dipekerjakan.


Ia bercerita pernah suatu waktu ia datang ke rumah untuk menjaga seorang bayi umur 8 bulan, entah mengapa ibu si bayi mulai merasa keberatan dengan jilbabnya.

“Kenapa kau tidak melepas penutup kepala itu, kau kan seorang Polish (Orang Polandia)?” begitu ibu si bayi mengeluhkan tentang jilbabnya.

Sister Cahaya menjawab, “Maaf Pani, saya tidak bisa, saya seorang muslimah,” begitu teguh meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Saya pernah memberanikan diri bertanya, “Sister, mengapa kau tidak menutup kepala seperti turban agar tidak begitu nampak, mungkin dengan begitu mereka akan tetap mempekerjakanmu?”

“Tidak … Tidak, sampai akhir napas, jilbab ini akan selalu saya kenakan, Sister. Tak ada siapapun atau apapun yang bisa menggantikan hidayah yang telah Allah karuniakan ini,” jawabnya penuh keteguhan.

“Hidup ini sementara. Saya berdoa saya kembali menghadapNya dalam keadaan taat. Apa yang perlu saya khawatirkan, Sister?” ujar Cahaya.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar,” saya bertakbir dan memeluknya dengan haru.

Mari dengar apa yang hendak ia ucap saat saya kembali bertanya, “Lalu bagaimana sekarang kau menghidupi dirimu dan kedua orang tuamu?”

“Saya kerja jadi tukang bersih-bersih supaya tidak lepas jilbab. Tidak ada yang peduli atau keberatan dengan jilbab yang saya pakai. Saya lebih tenang dengan pekerjaan ini, Sister,” Ia mengucap kalimat di atas dengan binar bahagia. Semoga Allah merahmatimu, Kochana.

Saya kembali mendekat dan memeluknya. Aisha yang tengah memperhatikan kami tiba-tiba sudah berdiri di depan dan ikut memeluknya. MashaAllah, putri saya pun bisa merasakan ketegaran saudari dari negeri Sang Paulus ini.

Sister ini bagi saya tak sekadar teman, melainkan ada ikatan yang erat dan kuat yakni ikatan aqidah. Dan darinya saya belajar arti keteguhan dalam ucapan maupun perbuatan dalam menunjukkan identitas.

Ini saudari mualaf yang teguh dengan jilbabnya. Yang tak goyah dalam jalan imannya. Izinkan saya bertanya kepada saudari yang diberi kemudahan dan kelapangan:

Apa yang menghalangimu berjilbab?

Apa yang memberatkanmu berjilbab?

Apa yang membuatmu enggan berjilbab?



Oleh: Raidah Athirah

Kontributor IP, Penulis-Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Polandia








sumber :
eramuslim

Tuesday, 23 October 2018

Berbeda Bukan Berarti Salah

View Article
Berbeda Bukan Berarti Salah

Banyak jalan yang coba ditapaki para pendahulu kita untuk menyebarkan risalah islam. Buah dari usaha itu adalah munculnya berbagai gerakan dakwah dengan ciri dan tipikal khas masing2. Badiuzzaman Said Nursi dengan ciri khas bahasa dakwahnya yang lembut dan tinggi, menaklukkan hati, mengajak untuk terus berfikir dan berzikir.

Lihat pula Risalah dakwahnya syaikh syahid Hasan al Banna, kombinasi antara tazkiyah diri dan jihad siyasi. Menyadarkan betapa pentingnya politik dan kekuasaan, dengan tidak lupa terhadap kewajiban untuk selalu bersih2 diri.
Perhatikan juga ijtihad dakwah ismail al farouqi, "Islamization Of Knowledge" adalah usaha dakwah yang coba dibawanya untuk mengisi pos2 pembelajaran diruang akademik yang belakangan di dominasi liberalis. Semuanya bekerja dengan bahasa dan cara yang berbeda, tapi ghayah tetap sama, untuk Islam.
----------------------------
Jangan panik ketika ada yang berbeda manhaj dengan kita dalam dakwahnya, yang berbahaya itu adalah kalau hanya karna berbeda dalam perkara manhaj/cara/metode/ijtihad dakwah, lantas hal tersebut menjadikan kita buta, tak tahu mana kawan mana lawan. Kita telan semua yang tidak sebendera sewarna.

Meyakini bahwa jalan dakwah kita benar adalah penting, sebab kalau kita tidak yakin kenapa harus ditapaki?

Tapi berkeyakinan bahwa kitalah satu satunya pemilik kebenaran dan pemegang tunggal "ijazah" untuk berdakwah adalah kesalahan fatal. Pemahaman seperti ini akan memantik api permusuhan yang sulit untuk dipadamkan.

Islam adalah islam, banyak jalan menyampaikannya. Golongan apapun itu, selama didasari pemahaman islam yang benar, maka ia adalah bahagian dari islam. Jangan pahami bahwa golongan kita adalah islam dan islam adalah golongan kita, Engkau akan kafirkan orang yang tak sepaham denganmu, engkau akan bid'ah kan orang yang berlainan cara denganmu, kau akan sesatkan, salahkan, dan hukum sesiapapun yang engkau rasa tak sesuai denganmu. Sebab engkau berkeyakinan bahwa islam adalah golonganmu saja dan selain darinya adalah bukan. Juga kau meyakini bahwa pertolongan Allah hanya untuk golonganmu, kau lihat mereka yang tak berada dalam shafmu sebagai manusia yang kurang berislam, kau yakini bahwa Allah bersama jamaah dan jamaah itu adalah golonganmu saja, kau lupa ada jutaan muslim yang mungkin punya cara berbeda dengan caramu. Ada ratusan ulama dan pemikir islam yang berjalan berbeda dengan jalanmu.

Ada baiknya kita kaji lagi bahasan2 tentang fiqh ikhtilaf. Buka lagi buku2 fiqh perbandingan. Agar kita semakin mantap memahami bahwa yang berbeda dengan kita bukan berarti salah, dan kebenaran tak bisa di klaim hanya untuk kita saja. Pun juga agar bisa lebih menghargai hak2 mereka yang berbeda dengan kita.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله فلا تخفروا الله في ذمته.

Rasul Allah berkata, "Siapa pun yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat seperti kiblat kita, dan makan hewan kita yang kita sembelih, adalah seorang Muslim. Mereka berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya.

Jangan khianati Allah dengan mengkhianati mereka yang berada dalam perlindungan-Nya.

ولا تخونوه بانتهاك حقوقه
Jangan mengkhianatinya adalah jangan melanggar hak mereka. Caci maki, sumpah serapah, fitnah, ghibah adalah bagian dari pelanggaran hak terhadap saudara muslim kita. Kasihi dan hormati teman muslim kita, perlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Ayo hargai manusia, ayo baik bareng.

Ahmad Syauqi, Lc

Sunday, 7 October 2018

Perpisahan yang berkah

View Article
 Ini adalah pilihan dalam amal kebaikan, do'akanlah agar perpisahan itu membawa kebaikan, karena ukhuwah tidak akan musnah.

Berpisah dengan doa, tanpa kebencian dan cacian.

Tetaplah beramal karena kita akan ditanya atas apa yang kita lakukan sendiri. Setiap kita membutuhkan saudara nya, hingga di hari pengadilan pun, kita membutuhkan saudara kita.

Apa yang diperselisihkan tidak pernah lebih berharga dari hidayah, ilmu dan ukhuwah. Maka maknai lah perpisahan itu sebagai pilihan amal kebaikan, sebagai mana Musa dan Khidhir yang akhirnya harus berpisah.

Setiap orang punya keburukan sebagai mana ia juga punya kebaikan.

Ketahuilah, bahwa kebaikan kebaikan itu akan bertemu diakhirnya. Aamiin

Ingatlah pesan Al Qur'an, Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsir nya,

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: _sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian._ (Al-Anfal: 1) Yakni *janganlah kalian saling mencaci.*

Sehubungan dengan hal ini kami akan mengetengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnu Al-Musanna Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Ia mengatakan:

حَدَّثَنَا مجاهد بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ شَيْبَةَ الْحَبَطِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ، إِذْ رَأَيْنَاهُ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ ثَنَايَاهُ، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؟ فَقَالَ: "رَجُلَانِ جَثَيَا مِنْ أُمَّتِي بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعِزَّةِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: يَا رَبِّ، خُذْ لِي مَظْلَمَتِي مِنْ أَخِي. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْطِ أَخَاكَ مَظْلَمَتَكَ. قَالَ: يَا رَبِّ، لَمْ يَبْقَ مِنْ حَسَنَاتِي شَيْءٌ. قَالَ: رَبِّ، فَلْيَحْمِلْ عَنِّي مِنْ أَوْزَارِي" قَالَ: وَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ ذَلِكَ لَيَوْمٌ عَظِيمٌ، يَوْمٌ يَحْتَاجُ النَّاسُ إِلَى مَنْ يَتَحَمَّلُ عَنْهُمْ مِنْ أَوْزَارِهِمْ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِلطَّالِبِ: ارْفَعْ بَصَرَكَ فَانْظُرْ فِي الْجِنَانِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ، أَرَى مَدَائِنَ مِنْ فِضَّةٍ وَقُصُورًا مِنْ ذَهَبٍ مُكَلَّلَةً بِاللُّؤْلُؤِ، لِأَيِّ نَبِيٍّ هَذَا؟ لِأَيِّ صِدِّيقٍ هَذَا؟ لِأَيِّ شَهِيدٍ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا لِمَنْ أَعْطَى الثَّمَنَ. قَالَ: يَا رَبِّ، وَمَنْ يَمْلِكُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْتَ تَمْلِكُهُ. قَالَ: مَاذَا يَا رَبِّ؟ قَالَ: تَعْفُو عَنْ أَخِيكَ. قَالَ: يَا رَبِّ، فَإِنِّي قَدْ عَفَوْتُ عَنْهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: خُذْ بِيَدِ أَخِيكَ فَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ". ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُصْلِحُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"

telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Syaibah Al-Habti, dari Sa'id ibnu Anas, dari Anas r.a. yang mengatakan,

"Ketika Rasulullah Saw. sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum sehingga kelihatan gigi serinya.

Maka Umar berkata, 'Apakah yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu?'

Rasulullah Saw. menjawab, 'Ada dua orang lelaki dari kalangan umatku sedang bersideku di hadapan Tuhan Yang Mahaagung, Mahasuci, lagi Mahatinggi. Lalu salah seorangnya berkata, 'Wahai Tuhanku, ambillah hakku dari saudaraku ini.'

Alloh Swt. berfirman, 'Berikanlah kepada saudaramu itu akan haknya.' Lelaki yang dituntut berkata, 'Wahai Tuhanku, tiada sesuatu pun dari amal baikku yang tersisa." Lelaki yang menuntut berkata, 'Wahai Tuhanku, bebankanlah kepadanya sebagian dari dosa-dosaku'."

Anas melanjutkan kisahnya, "Lalu kedua mata Rasulullah Saw. mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, 'Sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, yaitu hari manusia memerlukan orang-orang yang menanggung sebagian dari dosa-dosa mereka.'

Maka Allah Swt. berfirman kepada si penuntut, 'Angkatlah penglihatanmu dan lihatlah ke surga-surga itu!' lelaki itu mengangkat kepalanya dan berkata, 'Wahai Tuhanku, saya melihat kota-kota dari perak dan gedung-gedung dari emas yang dihiasi dengan batu permata. Untuk nabi manakah ini, untuk siddiq siapakah ini, dan untuk syahid siapakah ini?'

Alloh berfirman, 'Untuk orang yang mau membayar harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Siapakah yang memiliki harganya?' Allah berfirman, 'Engkau pun memiliki harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Apakah harganya, wahai Tuhanku?' Allah berfirman, 'Kamu maafkan saudaramu ini.' Lelaki itu berkata, 'Wahai Tuhanku sesungguhnya sekarang saya memaafkannya.'

Alloh Swt. berfirman, 'Peganglah tangan saudaramu ini, dan masuklah kamu berdua ke surga'." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian. Karena sesungguhnya Allah kelak di hari kiamat akan memperbaiki hubungan di antara sesama orang-orang mukmin.
tafsir Ibnu Katsir, surah Al Anfal : 1

Dikutip oleh m.n.k

Wednesday, 3 October 2018

Garbi, Gerakan Anak Muda Milenial

View Article
Realitas tidak boleh kita baca dari apa yang nampak saja. Tetapi dari apa yang tidak tampak. Begitulah faktanya bahwa semua perubahan besar tidak pernah bisa kita prediksi.
Inikah yang membuat orang sulit berubah? Ya salah satunya.

Orang-orang kebanyakan menghadapi ketegangan dengan mekanisme “membela diri” bukan mentalitas “prediktif” sehingga dilanda air bah perubahan yang mereka tak pernah mengerti. Bak katak di bawah tempurung. Maka, membaca peta dunia ini (termasuk politik Indonesia yang sedang bergolak) janganlah menggunakan realitas fisik apa yang terjadi pada setiap kubu.



Hijrah nabi dari Makkah ke Madinah yang kemudian dijadikan tonggak tahun Baru Islam. Ada yang kita lupa bahwa peristiwa hijrah itu bukan soal merancang perubahan saja tapi soal niat. Ini soal hati. Ketika Nabi SAW mengajak hijrah fisik dari Makkah ke Madinah, beliau tidak saja sedang menyelamatkan sebuah gerakan baru, tetapi juga menyeleksi generasi baru.

Maka, jika sebuah masyarakat baru atau gerakan baru lahir dari niat tulus dan bersih, maka tidak ada yang akan menghalanginya untuk menjadi dominan dan membesar seperti Islam dari kota Madinah.

Mari kita bersama-sama wujudkan Gerakan Arah Baru Indonesia.


#Garbi
#Gerakanarahbaruindonesia

Thursday, 27 September 2018

Makna Al Jamaah Yang Sesungguhnya

View Article
Makna Al-Jama'ah adalah sebagai berikut:

Pertama, Al-Jama'ah adalah Sawadul A'zham (kelompok manusia yang besar sekali jumlahnya).
Kedua, Al-Jama'ah ialah kumpulan para imam dari kalangan ulama mujtahidin.
Ketiga, Al-Jama'ah ialah para sahabat secara khusus ridhwanullah alaihim.
Keempat, Al-Jama'ah ialah kumpulan umat Islam tatkala mereka bersepakat dalam satu urusan.
Kelima, Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin yang sepakat atas seorang amir (pemimpin). (Lihat Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah oleh Imam Al-Laalikai, tahqiq: Dr. Ahmad Sa'ad Hamdan juz 1-2 hal.96 dan As-Sunnah oleh Ibnuu Khallal, tahqiq: Dr. 'Athiyyah Az-Zahrani hal.74).

Itulah pendapat-pendapat penting tentang makna Al-Jama'ah yang kita diperintah untuk beriltizam (komitmen) kepadanya.

Abdullah bin Mas'ud radhiallahu anhu berkata:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
"Al-Jama'ah ialah setiap yang sesuai dengan kebenaran meskipun kamu seorang diri." (Lihat Al-Hawadits wal Bida' oleh Abu Syamah hal. 22. Hadits diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Al-Madkhal).

Dalam riwayat lain:

إِنَّمَا الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ طَاعَةَ اللهِ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ
"Al-Jama'ah adalah siapa saja yang sesuai ketaatannya kepada Allah walaupun engkau bersendirian." (Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah I/109).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan: "Alangkah bagusnya apa yang dikatakan oleh Abu Syamah dalam kitabnya Al-Hawadits wal Bida'.

Ketika datang perintah untuk berpegang dengan Al-Jama'ah, maka yang dimaksudkan dengannya adalah berpegang kepada al-haq (kebenaran) dan mengikutinya. Sebab, orang yang berpegang dengannya sangat sedikit dan yang menentangnya demikian banyaknya. Sesungguhnya yang dimaksud dengan al-haq ialah apa-apa yang difahami oleh jama'ah pertama dari kalangan para shahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. (Ighatsatul Lahfan I/80, tahqiq: Basyir Muhammad 'Uyun).

Ibnu Khallal rahimahullah dalam kitabnya As-Sunnah berkata: "Al-Jama'ah ialah Jama'atul Muslimin, yaitu para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan sampai Hari Akhir. Mengikuti mereka merupakan hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah sesat, sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Barangsiapa menentang Rasul setelah jelas baginya kebenaran dan mengikuti selain jalan-jalan  mukminin (para sahabat ridhwanullah alaihim) maka Kami biarkan dia bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ke dalam Jahannam dan Jahannam itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa`: 115). (As-Sunnah, Abu Bakr bin Muhammad Al-Khallal, tahqiq: Dr. Athiyyah Az-Zahrani, hal. 79).

Wallohua'lam.


































































Sunday, 23 September 2018

Rizkiku ada di langit, Bukan di tempat kerja

View Article
 Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Hatim Al Ashom, ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi utk menuntut ilmu.

Istri dan putri putrinya keberatan. Krn siapa yg akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang…








Mereka mulai lapar. Tapi tdk ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yg tlh mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Dlm suasana spt itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin…..

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kpd para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan spt yg saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yg berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, krn banyaknya kantong-kantong uang. Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu…?
Ternyata Abu Ja’far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 thn yg telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ!

Terimakasih nak, kau telah menyengat kami yg dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.
Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian…

Bukan di pekerjaan…bukan di kebun…bukan di toko…tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami….

Budi Ashari, Lc
-Madrasah Al Fatih-

Barokallahu fiikum….

https://www.eramuslim.com/oase-iman/rizki-ku-ada-di-langit-bukan-di-tempat-kerja.htm#.W6dalBFoTcs

Monday, 2 July 2018

Mengenal, Lebih Penting!

View Article
Alkisah, pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan.

Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata, mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.

Di sela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut.


Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.

Sang nenek melihat hal ini, perasaannya terharu bercampur kecewa dan heran. Akhirnya sang nenek berkata kepada sang kakek: "Suamiku, kita telah melewati 50 tahun bahtera pernikahan kita. Ketika engkau memutuskan untuk melamarku, aku memutuskan untuk hidup bersamamu dan menerima dengan segala kekurangan yang ada untuk hidup sengsara denganmu walaupun aku tahu waktu itu kondisi keuangan engkau pas-pasan. Aku menerima hal tersebut karena aku sangat mencintaimu.

Sejak awal pernikahan kita, ketika kita mendapatkan keberuntungan untuk dapat menyantap hidangan ikan, engkau selalu hanya memberiku kepala ikan yang sebetulnya sangat tidak aku suka, namun akum tetap menerimanya dengan mengabaikan ketidaksukaanku tersebut karena aku ingin membahagiakanmu. Aku tidak pernah lagi menikmati daging ikan yang sangat aku suka selama masa pernikahan kita. Sekarang pun, setelah kita berkecukupan, engkau tetap memberiku hidangan kepala ikan ini. Aku sangat kecewa, suamiku. Aku tidak tahan lagi untuk mengungkapkan hal ini."

Sang kakek pun terkejut dan bersedihlah hatinya mendengarkan penuturan Sang nenek. Akhirnya, sang kakek pun menjawab, "Istriku, ketika engkau memutuskan untuk menikah denganku, aku sangat bahagia dan aku pun bertekad untuk selalu membahagiakanmu dengan memberikan yang terbaik untukmu. Sejujurnya, hidangan kepala ikan ini adalah hidangan yang sangat aku suka. Namun, aku selalu menyisihkan hidangan kepala ikan ini untukmu, karena aku ingin memberikan yang terbaik bagimu.

Semenjak menikah denganmu, tidak pernah lagi aku menikmati hidangan kepala ikan yang sangat aku suka itu. Aku hanya bisa menikmati daging ikan yang tidak aku suka karena banyak tulangnya itu. Aku minta maaf, istriku."

Mendengar hal tersebut, sang nenek pun menangis.

Merekapun akhirnya berpelukan. Percakapan pasangan ini didengar oleh sebagian undangan yang hadir sehingga akhirnya merekapun ikut terharu.

---------------------------------

Kadang kala kita terkejut mendengar atau mengalami sendiri suatu hubungan yang sudah berjalan cukup lama dan tidak mengalami masalah yang berarti, kandas di tengah-tengah karena hal yang sepele, seperti masalah pada cerita di atas.

Kualitas suatu hubungan tidak terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana kita mengenali pasangan kita masing-masing.

Wednesday, 30 May 2018

Salah Mengambil Pelajaran

View Article
Kaum sufi meriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi, seorang saleh, pergi dalam perjalanan bisnis dan mencari karunia Allah. Sebelum keberangkatannya, ia berpamitan kepada temannya, Ibrahim bin Adham, seorang zahid yang terkenal.

Ibrahim bin Adham memperkirakan ia akan melakukan perjalanan dalam waktu lama, tetapi beberapa hari kemudian Syaqiq al-Balkhi kembali lagi dan terlihat di masjid, lalu Ibrahim bin Adham bertanya kepadanya dengan penuh keheranan: Apa yang menyebabkan kamu cepat kembali?

Syaqiq al-Balkhi: Saya melihat seekor burung yang sangat mengagumkan di tengah perjalananku lalu saya membatalkan perjalanan.

Ibrahim bin Adham: Baik, apa yang kamu lihat?

Syaqiq al-Balkhi: Saya singgah di tempat yang sepi untuk beristirahat di dalamnya, lalu saya mendapati seekor burung yang cacat dan buta. Saya merasa heran lalu saya berkata di dalam hati: Bagaimana burung ini bisa hidup di tempat yang terpencil ini, padahal burung ini tidak bisa melihat dan tidak bisa bergerak? Tidak lama kemudian datang burung lain yang membawa makanan untuknya, dalam sehari beberapa kali, hingga tercukupi kebutuhannya. Lalu saya berkata: Sesungguhnya Dzat yang memberi rezki kepada burung ini di tempat ini pasti berkuasa memberiku rezeki, lalu saat itu pula saya kembali.

Ibrahim bin Adham: Sungguh aneh kamu ini wahai Syaqiq! Kenapa kamu mau menjadi burung yang buta dan cacat, yang hidup mengharapkan dan menggantungkan bantuan orang lain, tetapi tidak mau menjadi burung lain yang berusaha mencukupi dirinya sendiri dan membantu orang lain yang memerlukan bantuan? Tidakkah kamu tahu bahwa tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah?

Kemudian Syaqiq al-Balkhi berdiri dan mencium tangan Ibrahim bin Adham seraya berkata: Kamu adalah guru kami wahai Abu Ishaq! Akhirnya Syaqiq al-Balkhi kembali menekuni usaha dan perniagaannya lagi.

Ya, sebagian pemalas berdalil dengan hadis Nabi saw: “Sekiranya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal pasti Allah memberimu rezki sebagaimana Dia memberi rezki kepada burung; ia berangkat pagi dalam keadaan kosong dan kembali dalam keadaan kenyang”. (Sunan at-Tirmidzi 2344).

Hadis ini membantah mereka, karena Allah tidak menjamin perut burung itu kenyang kecuali setelah berangkat sejak pagi. Arti berangkat pagi (taghdu) adalah keluar untuk mencari rezki. Jadi, hadis ini mengingatkan agar berusaha dan melakukan berbagai upaya, agar tidak hanya mengharap bantuan orang lain yang membuat dirinya tidak mandiri dan merdeka dalam bersikap dan berpendapat.

Lihat: Musykilat al-Faqr , kaifa ‘alajaha al-Islam, Dr. Yusuf al-Qaradhawi.

Diterjemahkan dari “Zad al-Murabbin”, Ibrahim Badr Syihab al-Khalidi. Oleh Aunur Rafiq Saleh Tamhid.

sumber : ngelmu.co

Friday, 4 May 2018

Produktivitas Kolektif

View Article
Enteng benar Ummu Salamah menjawab pertanyaan Anas bin Malik. Khadam Rasulullah SAW ini diam-diam mengamati sebuah kebiasaan Sang Rasul yang rada berbeda ketika beliau menemui Ummu Salamah dan ketika beliau menemui Aisyah.

Rasulullah SAW selalu secara langsung dan refleks mencium Aisyah setiap kali menemuinya, termasuk di bulan Ramadhan. Tapi tidak begitu kebiasaan beliau saat bertemu Ummu Salamah. Nah, kebiasaan itulah yang ditanyakan Anas bin Malik kepada Ummu Salamah, yang kemudian dijawab begini: ”Rasulullah SAW tidak dapat menahan diri ketika melihat Aisyah.”
Jawabannya Cuma begitu. Penjelasannya sesederhana itu. Datar. Yah, datar saja. Seperti hendak menyatakan sebuah fakta tanpa pretensi. Sebuah fakta yang diterima sebagai suatu kewajaran tanpa syarat. Tanpa penjelasan.

Sudah begitu keadaannya, kenapa tidak? Atau apa yang salah dengan fakta itu? Apa yang harus dicomplain dari kebiasaan itu?
Itu sama sekali tidak berhubungan dengan harga diri yang harus membuat ia marah. Atau menjadi keberatan yang melahirkan cemburu. Mati rasakah ia? Hah?? Tapi siapa berani bilang begitu?


Terlalu banyak masalah kecil yang menyedot energi kita. Termasuk banyak pertengkaran dalam keluarga. Sebab kita tidak punya agenda-agenda besar dalam hidup. Atau punya tapi fokus kita tidak ke situ. Jadi kaidahnya sederhana: kalau energi kita tidak digunakan untuk kerja-kerja besar, maka perhatian kita segera tercurah kepada masalah-masalah kecil.

Karena mereka punya agenda besar dalam hidup, maka mereka tidak membiarkan energi mereka terkuras oleh pertengkaran-pertengkaran kecil, kecuali untuk semacam ”pelepasan emosi” yang wajar dan berguna untuk kesehatan mental.

Kehidupan mereka berpusat pada penuntasan misi kenabian di mana mereka menjadi bagian dari tim kehidupan Sang Nabi. Jadi masalah kecil begini lewat begitu saja. Tanpa punya bekas yang mengganggu mereka. Fokus mereka pada misi besar itu telah memberi mereka toleransi yang teramat luas untuk membiarkan masalah-masalah kecil berlalu dengan santai.

Fokus pada misi besar itu dimungkinkan oleh karena sejak awal akad kebersamaan mereka adalah janji amal. Sebuah komitmen kerja. Bukan sebuah romansa kosong dan rapuh. Mereka selalu mengukur keberhasilan mereka pada kinerja dan pertumbuhan kolektif mereka yang berkesinambungan sebagai sebuah tim.

Persoalan-persoalan mereka tidak terletak di dalam, tapi di luar. Mereka bergerak bersama dari dalam ke luar. Seperti sebuah sungai yang mengalir menuju muara besar: masyarakat. Mereka adalah sekumpulan riak yang menyatu membentuk gelombang, lalu misi kenabian datang bagai angin yang meniup gelombang itu: maka jadilah mereka badai kebajikan dalam sejarah kemanusiaan.
Cinta memenuhi rongga dada mereka.

Dan semua kesederhanaan, bahkan kadang kepapaan, dalam hidup mereka tidak pernah sanggup mengganggu laju aliran sungai mereka menuju muara masyarakat.
Mereka bergerak. Terus bergerak. Dan terus bergerak.
Dan romansa cinta mereka tumbuh kembang di sepanjang jalan perjuangan itu.

Sumber: Serial Cinta Anis Matta di Majalah Tarbawi

Monday, 30 April 2018

Inspirasi Negeri Sulaiman

View Article
Di dalam Al Quran banyak pembahasan mengenai bernegara, baik yang bersifat rujukan aturan maupun kisah sejarah. Salah satu yang menarik dan telah saya sampaikan dalam beberapa kesempatan adalah kisah negeri Nabi Sulaiman AS yang ada dalam surat An Naml.
Penjelasan mengenai negeri Sulaiman dimulai dengan penegasan pentingnya ilmu pengetahuan dalam islam. Ayat 15 Q.S. An Naml berbunyi, “Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengatakan: ‘Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman.’”

Kecintaan kepada ilmu pengetahuan diajarkan oleh Islam dalam banyak kesempatan dan dalam konteks negeri Sulaiman, kecintaan kepada ilmu pengetahuan menjadi dasar berkembangnya kekuatan teknologi, ekonomi, dan militer, serta berujung pada kesejahteraan negeri di bawah kekuasaan Nabi Sulaiman AS.

Kemampuan militer negeri Sulaiman tidak hanya bertumpu pada kekuatan fisik yang digambarkan dengan tentara jin, manusia dan burung yang diatur tertib dalam barisan, tetapi juga kemampuan surveillance yang disimbolkan oleh informasi yang dibawa burung hudhud.

Penjelasan betapa Islam mengapresiasi unggulnya ilmu dibanding otot juga bisa kita pelajari dari dialog tentang keinginan untuk membawa singgasana Ratu Balqis dari Kerajaan Saba (di sekitar Yaman sekarang) ke istana Sulaiman di Palestina. Anggota pasukan Sulaiman yaitu Ifrit dari bangsa jin mengatakan ia mampu membawa singgasana itu sebelum Sulaiman bangkit dari duduknya.

Ifrit juga menepuk dada dan mengatakan dirinya benar-benar kuat dan dapat dipercaya. Kekuatan Ifrit kalah oleh seseorang yang mempunyai ilmu dari kitab. Ia berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.”

Ketika melihat singgasana itu sudah ada di sisinya, Sulaiman berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.”

Akhirnya Ratu Balqis menyatakan menyerahkan diri bersama Sulaiman kepada Allah SWT setelah melihat istana terbuat dari kaca yang licin, yang disangkanya air hingga tersingkap gaun dan memperlihatkan betisnya. Balqis menyerahkan diri bukan karena invasi senjata atau kekerasan, melainkan diyakinkan oleh keluasan ilmu dan kecanggihan teknologi yang dimiliki Sulaiman.

Working Ideology di Gelombang Ketiga
Dalam buku Gelombang Ketiga Indonesia (2014) saya menjelaskan pentingnya working ideology bagi suatu bangsa. Working ideologyadalah sistem nilai yang mampu bekerja membentuk konsensus, cara pandang dan tindakan kolektif masyarakatnya.

Working ideology penting bagi Indonesia yang tengah memasuki gelombang sejarahnya yang ketiga, sebuah periode sejarah yang baru saja kita masuki setelah dua gelombang sebelumnya. Gelombang pertama adalah menjadi Indonesia yang ditandai dengan proklamasi kemerdakaan 17 Agustus 1945.  Gelombang kedua terentang sejak Orde Lama, Orde Baru hingga era Reformasi. Pada gelombang kedua tersebut, kita berusaha mencari sistem politik dan ekonomi yang cocok serta mencari keseimbangan baru antara kebebasan dan kesejahteraan.

Di Orde Lama ada kebebasan tapi rakyat lapar; di Orde Baru perut kenyang tapi mulut dibungkam. Pada era Reformasi yang sudah berjalan 20 tahun ini kita mulai menemukan titik keseimbangan melalui penataan sistem dan kelembagaan politik, reposisi militer dalam politik, otonomi daerah, dan banyak lagi.

Dalam mencari suatu working ideology kita ingat perdebatan Islam, keindonesiaan, dan kemodernan yang sangat menggugah dari Nurcholish Madjid pada 1980-an hingga 1990-an. Setelah sekian tahun berjalan, wacana itu masih relevan. Saya menggali konteksnya bagi masyarakat gelombang ketiga dan menemukan bahwa nilai-nilai yang berkembang pada era ini adalah agama, pengetahuan, dan kesejahteraan.

Masyarakat Indonesia sekarang adalah masyarakat yang religius (religious society) dan tidak canggung mengekspresikan identitas keislamannya. Namun, selain religius dalam konteks individu dan sosial, masyarakat kita juga semakin berpengetahuan bersemangat untuk menjadi pembelajar (learning society). Ini bisa dilihat dari semakin tinggi tingkat pendidikan rata-rata masyarakat Indonesia, serta semakin terbukanya akses informasi.

Jika dianalogikan sebagai segitiga sama sisi, maka sisi ketiga adalah kesejahteraan sebagai hasil dari implementasi nilai agama dan pengetahuan. Menjadi sejahtera dinilai sebagai kebaikan sepanjang kesejahteraan itu berfaedah bagi masyarakat. Dalam bahasa sederhana, manusia Indonesia gelombang ketiga orang saleh, cerdas, dan sejahtera. Walau “tajir” tapi tetap zuhud dan terus belajar.
Kombinasi agama dan pengetahuan melahirkan kemajuan teknologi, kekuatan militer, dan kemakmuran ekonomi. Nilai dan kompetensi itu dapat tumbuh pada basis sosial masyarakat religius dan berpengetahuan (knowledge society). Agama, pengetahuan, dan kesejahteraan inilah working ideology di gelombang ketiga Indonesia.

Di bidang teknologi, Indonesia perlu segera mengejar ketinggalan atau mempersempit gap dengan negara lain, apalagi dunia kini sudah masuk ke teknologi kompuasi generasi ke-6 (6G). Komputer ke depan akan makin cerdas, mempunyai kemampuan sensorik (melihat, mendengar, mendeteksi suhu), serta mengambil keputusan. Pengembangan robot untuk menggantikan manusia adalah keniscayaan sehingga manusia harus berjuan dan belajar agar tak tergantikan oleh robot. Bukan hanya teknologi “tinggi” seperti robot, revolusi teknologi juga memungkinkan komputer masuk ke alat rumah tangga sehari-hari seperti kulkas, mesin cuci, hingga saklar lampu.

Satu catatan penting dalam pengembangan teknologi di Indonesia adalah usaha itu harus tetap berorientasi mewujudkan kesejahteraan jangka panjang. Kemajuan teknologi tidak boleh hanya dieksploitasi untuk kemakmuran segelintir pebisnis teknologi, namun harus kembali menjadi salah satu mesih pertumbuhan ekonomi yang dinikmati oleh seluruh rakyat.

Di bidang ekonomi, karakter sebagai knowledge society relevan dengan perkembangan zaman yang makin memasuki knowledge economy(ekonomi berbasis pengetahuan) karena tantangan kita adalah mecari mesin pertumbuhan ekonomi baru yang menjadi fondasi kemakmuran jangka panjang. Indonesia harus semakin menumpukan daya saing ekonominya pada manusia bekualitas bukan manusia yang diupah murah. Mesin baru inilah yang akan menempatkan kita sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia sekaligus membawa kita keluar dari jeratan utang luar negeri yang membuat kita lemah dan mudah didikite pihak lain.

Itulah arah baru Indonesia di dalam gelombang ketiga sejarah bangsa ini. Indonesia akan bertransformasi menjadi religious society yang mempunyai karakter kuat, learning society yang terus menumbuhkan semangat pembelajar, dan akhirnya menjadi knowledge society, yang berbasis pengetahuan. Ketiga fondasi itu akan menjadi lahan bertumbuhnya kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer. Ternyata, semua itu sudah tertulis di Al Quran dalam kisah negeri Sulaiman.

Perkenankan saya akhiri tulisan sederhana ini dengan mengutip ayat terakhir dari Surat An Naml: Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

sumber : Ustad Anis Matta