Monday, 4 February 2019

Lalat dan Sampah, Sebuah Renungan

View Article
LALAT DAN SAMPAH

Beberapa tahun silam, ada salah seorang pasien yang hampir selalu rutin datang setiap sabtu untuk ruqyah bersama. Keluhan sakitnya macem-macem, diantaranya yang saya ingat adalah gangguan di pencernaan dan beberapa keluhan lain. Beliau memiliki latar belakang keluarga besar yang sangat dekat dengan hal-hal supranatural. Jimat, pusaka, atau menghitung hari untuk bangun rumah, atau arah menghadapnya rumah bukan lagi hal asing dalam keluarga beliau. Beliau “rajin” ke dokter jika sakit mulai kambuh. Dan tak kunjung sembuh meski berulang kali berobat. Hingga beliau memutuskan untuk ikut ruqyah. Selesai kah??…..

Tidak. Berulangkali beliau mengikuti ruqyah di tempat saya, dan reaksi yang muncul selalu sama, muntah-munta dan sejenisnya. Selesai ruqyah, badan terasa ringan dan sakit berkurang. Tp tidak berapa lama, sakit datang kembali. Begitu seterusnya.



Suatu saat, di tahun 2015, saya diminta ngisi pengajian Ibu-ibu dengan tema ruqyah. Beliau juga hadir di acara tersebut. Seperti biasa sebelum ruqyah dimulai, selalu diawali dengan ta’lim tentang pembersihan jiwa, atau tazkiyatun nafs. Salah satunya adalah mengapa jin bisa hadir dalam hidup kita dan berulah dalam tubuh kita. Begitu juga selesai ruqyah, ada evaluasi sekilas tentang reaksi yang dirasakan dan dikaitkan dengan semua masa lalu dalam keseharian.

Salah satu kalimat yang membuat saya tertegun adalah kalimat dari ibu tersebut.

“Penting mengubah sikap terhadap sakit, dan membenahi diri. Saya sudah tidak lagi merasakan keluhan keluhan yang pernah saya alami dulu. Saya berulang kali ruqyah tapi tidak kunjung sembuh, tetapi saya selalu menyimak setiap nasihat yang Mas sampaikan dan berusaha mengamalkannya. Perlahan saya belajar melapangkan hati, menerima segala yang terjadi dengan ridho dan husnudhon pada Alloh. Kemudian perlahan sakit saya hilang. Saya sembuh bukan karena ruqyahnya, tapi karena saya menyimak nasihat, menyadari ada yang salah dan berusaha memperbaiki batin saya.” Kurang lebih begitu kalimat beliau.

Dan Alhamdulillah, Alloh takdirkan kesembuhan pada beliau.

Ada cerita lain sejenis dengan ini…..

Suatu saat di salah satu kota di jatim..

Ada seorang ibu, pasien di klinik kota tersebut. Saat ruqyah, beliau bereaksi keras, luar biasa. Berbagai dugaan diagnosa diberikan waktu itu. Beliau terus rajin mendatangi klinik ruqyah untuk terapi karena reaksi dan keluhannya tidak kunjung berakhir.

Setelah sekian waktu ruqyah tidak membuahkan hasil, sang Ibu ini disarankan ruqyah ke klinik ruqyah surabaya.

Beliau menceritakan bahwa beliau mulai merasakan hal-hal supranatural alias gangguan jin sejak anaknya tidak diterima di salah satu sekolah favorit yang beliau harapkan.

Hmmm…mungkin kekecewaan, kesedihan dan perlu dibenahi sikapnya terhadap takdir Alloh. Ini point diskusi yang coba kami pahamkan pada beliau. Alhamdulillah beliau menyadari ada yang salah dalam cara bersikap terhadap sesuatu yang telah terjadi. Beliau berusaha mohon ampun pada Alloh dan berusaha melapangkan dada terhadap apa yang terjadi. Serta berusaha husnudhon pada Alloh terkait dengan anaknya.

Kemudian, ruqyah dilakukan. Maa syaa Allohu laa quwwta illa billah. Tidak ada reaksi apapun dan gangguan selesai.

Saya teringat nasihat salah satu guru saya, semoga Alloh merahmati beliau, bahwa jin dan diri kita, ibarat lalat dan tempat sampah.

Kenapa?

Beliau bertanya pada saya, “jika lalat mendatangi sampah, apa yang akan antum lakukan?”

Lalu beliau melanjutkan dengan kalimat kurang lebih spt ini,

“Tidak ada gunanya kita mengejar si lalat itu.”

“Sangat melelahkan kalau kita harus memukul dan membunuh satu persatu lalat itu.”

“Meski lalat itu terbunuh semua, lalat lain akan segera hinggap di sampah tersebut”

“Seandainya pun, setelah itu semua lalat habis terbunuh, tempat sampah tersebut tetaplah kotor. Tetap tidak indah dipandang dan tetap tidak sedap baunya” ….

Maka…

Yang perlu kita lakukan bukan lah mengejar si lalat tetapi, ambil sampahnya, bersihkan tempat sampahnya maka semua lalat akan menyingkir setelah itu.

Proses ruqyah pun demikian adanya. Semua masalah yang sedang terjadi dalam hidup kita termasuk Gangguan jin dan sihir erat kaitannya dengan hal ini, yakni sampah yang menumpuk dalam diri.

Pada sebagian orang musibah, atau gangguan jin mungkin adalah ujian, karena Alloh berkehendak memuliakannya dengan ujian tersebut. Tapi pada kebanyakan orang, gangguan jin yang terjadi karena ada sesuatu yang harus dibenahi.

Saat kita menganggap bahwa gangguan jin adalah ujian, maka kita akan lebih sulit melihat kekurangan dalam diri kita.

Tetapi, manakala kita menganggap bahwa gangguan jin adalah bagian dari teguran Alloh maka kita akan lebih mudah untuk menyadari adanya kekurangan dalam diri.

Demikianlah Alloh mengingatkan kita bahwa semua terjadi karena sesuatu dalam diri dan masa lalu kita

 QS. Asy Syura : 30

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Oleh karenanya merasa ada kekurangan lebih utama

QS. An Najm : 32

(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.

Jadi, mungkin semua keluhan yang kita rasakan sebenarnya berujung pada hal ini, bukan soal kuat dan lemahnya jin dan dukunnya, juga bukan soal teknik ruqyahnya…..

Tapi mungkin ini soal Lalat Dan Sampah….

Semoga Alloh limpahkan taufiqNYA agar kita dimudahkan menemukan ‘sampah-sampah’ itu, sehingga setelah itu, sang lalat menyingkir, dan “tempat itu” menjadi harum dan indah dipandang mata.

Aamiin

Wallohu’alam

Semoga bermanfaat

M. Nadhif Khalyani
Founder RLC Indonesia

*Semua dikupas tuntas dalam buku Lalat dan Sampah, Rahasia Mengapa Tak Kunjung Sembuh

Order Buku : http://bit.ly/BukuLalatSampah

Thursday, 24 January 2019

Wahai, Suami.. Jika Ingin Tahu “HARGA” Istrimu, Maka Lihatlah Saat Dia Diam

View Article
Jika ingin tahu 'harga' seorang ISTRI maka lihatlah saat dia diam karena marah,  kesel,  baper atau yang paling ampuh cemburu (tp jgn di niatin ya), trus lihat deh seisi rumah tiba-tiba diam,Mencekam.

Malam terasa choki choki paanjang dan laama. Desahan nafas menyesakan, berasa uji nyali. Seluruh makanan menjadi hambar Semua terasa hampa dan kosong !

Maka disanalah biasanya seorang Lelaki lumpuh Hati dan jiwanya,bahkan semangatnya jadi butiran debu beterbangan kesana kemari.

Jangan bersilat lidah ya Suami, kalian butuh dia.
Dia adalah kekuatan mu.
Bukankah setiap hari kamu pulang kerumah membawa lelah dan berangkat lagi esok hari dengan semangat baru ?

Bukankah dia yang melahirkan anak-anak mu dan lalu menjadikan cinta yg menjulang kelangit nan tinggi. Bukankah sifat buruknya telah mengubah mu jadi sedikit Sabar dan Bijak ?

Bukankah dia yang menemani mu dalam duka dan berbagai kekhawatiran, kesulitan, kesedihan, kepahitan serta berbagai kekeliruan yang kini terangkai dalam Masalalu.


Coba ingat lagi, saat jiwa dan kehormatan mu dalam bahaya. Bukankah dia yang paling merasa khawatir ?
Atau coba ingat lagi, ketika semua orang menyalahkan mu dan dia berupaya membenarkannya meski harus berdusta pada dirinya sendiri?

Adalah suatu ketika, Ummar bin Khotob  dimarahi istrinya dan beliau hanya diam saja. Padahal dimasa itu beliau adalah manusia terkuat, peminpin terhebat, dicintai, dihormati, disegani bahkan ditakuti manusia dan jin. Lalu ketika itu sahabatnya bertanya;

"Kenapa engkau diam saja?" maka beliau menjawab; "Karena dialah wanita yang telah susah payah mengandung, melahirkan dan membesarkan anak-anakku".
Sederhana namun menusuk!

Barangkali kalian sering berkata dalam hati; "Aahh, dasar wanita. Pelupa. Saat marah semua jadi abu !"

Padahal sesungguhnya kalianlah yang pelupa.Lupa bahwa istrimulah yang paling tau betapa mahalnya harga syurga dalam timbangan rasa seorang wanita.Saat rasa itu pudar, hilang juga cahaya di rumahmu,  sirna keceriaan di dunia kecilmu, dan mungkin akan goyahkan pijakan mu, saat semua itu km alami baru km tau betapa berharganya wanita itu..
ISTRI MU .

Kajian :Ustadz Nuruddin

Friday, 18 January 2019

Bandara AS akan Mengubah Nama menjadi Bandar Udara Internasional Muhammad Ali

View Article
[oaseiman.net]Bandara Internasional Louisville yang berlokasi di Kentucky, AS akan berganti nama menjadi Bandar Udara Internasional Louisville Muhammad Ali.

Nama tersebut akan diubah untuk menghormati mendiang olahragawan, kemanusiaan dan aktivis Muhammad Ali yang terpilih sebagai Sports Personality of the Century oleh BBC.

Pengumuman dibuat oleh Muhammad Ali Center di Twitter:

Kami sangat senang mengumumkan bahwa @FlyLouisville akan mengubah namanya menjadi Bandara Internasional Louisville Muhammad Ali. Menjaga warisan Muhammad tetap hidup di kota kelahirannya yang sangat ia cintai sangat penting bagi misi Ali Center. Hadiah ulang tahun yang luar biasa untuk sang  juara!

Muhammad Ali lahir di Louisville ( 17 Januari 1942) dan dibesarkan di sana dengan nama Cassius Marcellus Clay, Jr

Walikota Greg Fischer memuji kontribusi Ali untuk olahraga dan kota kelahirannya.

Ali adalah seorang Muslim dan akan sering dengan bangga berbicara tentang iman Islamnya.

Dia pernah berkata, "Semua yang saya lakukan sekarang, saya lakukan untuk menyenangkan Allah,"

"Saya menaklukkan dunia, dan itu tidak membawa saya kebahagiaan. Satu-satunya kepuasan sejati datang dari menghormati dan menyembah Tuhan. ... Menjadi seorang Muslim sejati adalah hal terpenting di dunia bagi saya. Bagi saya itu lebih berarti daripada menjadi hitam atau menjadi orang Amerika. ”

Semoga Allah mengampuni dan merahmatinya.

sumber : https://ilmfeed.com/us-airport-change-name-muhammad-ali-international-airport/

Tuesday, 11 December 2018

Reuni 212, Melawan Stigma dengan Silaturrahim

View Article
Alhamdulillah reuni 212 yang ke 2 Tahun 2018 telah dilaksanakan dengan lancar, tertib dan damai; berikut video beberapa tanggapan peserta reuni 212 yang datang dari berbagai daerah.

massa reuni 212 tahun 2018



Reuni 212 adalah Pesta Ukhuwah, Pesta Persatuan, Perdamaian dan Kasih Sayang

Thursday, 6 December 2018

Reuni 212, Apa Yang Menggerakkan Mereka?

View Article
Sangat jarang saya menangis,tapi Jumat, 2 Desember 2016 silam, beberapa kali saya tak bisa membendung desakan air mata yang keluar dari kedua bola mata ini. Rasa haru terus menyelimuti sepanjang aksi.

Diawali saat baru tiba di lokasi. Usai mobil diparkir dekat Tugu Tani, saya langsung disambut oleh ibu-ibu yang memberikan makanan.

“Pak ini diambil snacknya buat sarapan,” kata seorang ibu berjilbab sambil membawa kardus berisi makanan.

Air mata menetes. Di pagi hari mereka bersusah payah hanya untuk membagikan penganan sarapan. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?


Saat berjalan perlahan menuju Monas, saya melihat anak-anak usia SMP dengan kepala berbalut tuliskan mujahid melangkah dengan semangat diiringi pekik takbir. Tubuh mereka mungil tapi ayunan kaki dan teriakan mereka jauh melebihi ukuran badannya. Air mata ini kembali menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Ada pula bapak-bapak yang rambutnya telah memutih. Mereka tampak kuat dan berjalan mantap menuju Monas. Kepala mereka pun diikat dengan kain bertuliskan Aksi Bela Islam 3. Lagi-lagi air mata menetes haru. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Di depan Balaikota DKI Jakarta, saya ditawari salak pondoh oleh dua orang lelaki yang datang dari Temanggung, Jawa Tengah.

“Ayo Pak diambil salaknya,” ujar seorang lelaki.

Sekali lagi saya tak mampu membendung air mata ini. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Lalu tepat di samping pintu masuk Lapangan Monas, ada tawaran layanan charger HP gratis.

“Siapa yang HP nya lowbatt, silakan mencharger disini…..gratis,” teriak seorang lelaki muda.

Ya Allah, disaat mereka sebenarnya bisa meraup keuntungan dengan jasa yang mereka tawarkan, tapi mereka justru tak ingin dibayar. Air mata ini menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Episode tangis haru saya mencapai puncaknya saat Sholat Jumat. Hujan yang mengguyur tak mampu membuat jutaan umat yang hadir bubar. Mereka tetap khusyuk sambil menahan dingin yang menusuk tulang.

Ya Robb, apa sesungguhnya yang menggerakkan ini semua?

Saya lalu teringat dengan kisah Perang Badar. Kala itu, malam terus merambat. Rasa lelah mendera pasukan Muslim. Rasa kantuk yang hebat datang menyerang. Hujan yang turun di gelapnya malam membuat pasukan tak kuasa menahan kantuk. Mereka tertidur ditemani perlengkapan perang yang menempel di tubuhnya.

Abu Thalhah sebagaimana diriwayatkan Ahmad berkisah.

“Rasa kantuk menyerang kami sementara kami masih berada dalam barisan pada waktu Perang Badar. Aku termasuk salah satu yang terkantuk. Tidak terasa pedangku terjatuh dari genggamanku, lalu aku memungutnya. Terjatuh lagi dan aku memungutnya. Setelah itu aku berdiri dengan perasaan malu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.”

Kemudian turunlah firman Allah swt:

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan engkau mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu (QS. Al Anfal:11)

Malam itu Allah swt menurunkan hujan sangat deras sehingga menghalangi pasukan musyrik untuk menyerang. Anehnya, kaum Muslim merasakan hujan itu seperti gerimis yang sangat mensucikan mereka: hujan yang melenyapkan gangguan setan, mengukuhkan tempat berpijak, memadatkan tanah, menegakkan kaki yang berdiri dan menyatukan hati (Zaadul Ma’ad)


Bisa jadi banyak yang nyinyir dan menganggap sangat lebay menyamakan kisah hujan di Monas dengan di Badar. Bahkan, jika tak turun hujan pun, masih banyak orang yang menghina kita karena ikut aksi.

Tapi begitulah cara Allah membedakan yang haq dan bathil. Penistaan agama oleh Ahok membuka kedok siapa yang sesungguhnya berada dalam barisan Islam dan musuh kaum muslimin. Bukankah Perang Badar juga disebut Yaumul Furqan? Hari Pembeda antara kebenaran dan Kebathilan?

Disanalah Umar bin Khaththab membunuh pamannya Al Ash bin Hisyam. Abu Bakar berhadapan dengan anaknya Abdurrahman. Lalu paman Nabi saw Abbas bin Abdul Muthalib ditahan pasukan muslimin. Saat itu, hubungan kekerabatan putus. Yang tersisa hanyalah kalimat iman mengalahkan kalimat kufur.

Sepertinya, inilah cara Allah yang hendak menjadikan kita sebagai pasukan Badar di akhir zaman ini yang dipimpin oleh ulama-ulama panutan umat: Ust Bachtiar Nasir, Habib Riziq Shihab, Ust Arifin Ilham hingga Aa Gym.

Bukankah almarhum KH Hasyim Muzadi di akhir hayatnya pun menyebut peristiwa 212 layaknya Badar?

Wallahua’lam bishshowab

Erwyn Kurniawan

Presiden Reli

sumber : ngelmu

Friday, 30 November 2018

Rindu Kami Padamu Ya Rasulullah...

View Article
Wajah-wajah duka terlihat di sebuah pojok Madinah, di rumah nan sederhana. Terdengar suara isak tangis mengepung ruangan. Dihadapan mereka, tergolek sesosok tubuh terbujur kaku, kepalanya berada di pangkuan seorang wanita, Aisyah.

Perlahan, Aisyah meletakkan kepala laki-laki yang tak bergerak itu di atas bantal. Kemudian Aisyah berdiri, ia memukul-mukul mukanya sendiri seperti yang dilakukan wanita-wanita lain. Kesedihan menyengat. Mulut tercekat. Airmata mengalir tak terbendung.

Hari itu, saat yang menyesakkan dada umat Islam. Seorang manusia agung, Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Kaum muslimin yang sedang berada di masjid, tak jauh dari rumah Nabi, terkejut mendengar kabar itu. Bagaimana tidak, sebab di pagi hari Nabi terlihat sehat, sembuh dari penyakit yang dideritanya. Mereka tak percaya, termasuk Umar bin Khattab. Namun, Abu Bakar segera mengingatkan:



“Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati.”

Lebih 14 abad berlalu, tapi kecintaan umat kepada Rasul pilihan itu tak juga lekang. Seperti kecintaan Umar, sehingga ia tak percaya jika Nabi bisa wafat.

Peringatan Maulid Nabi SAW yang setiap tahun dihelat menjadi salah satu buktinya. Lomba nasyid, tabligh akbar, zikir bersama, istighotshah, ceramah dan pengajian di kampung-kampung kerap mengiringi perayaan tersebut. Mulai dari anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) sampai orangtua. Dari masjid-masjid di gang sempit hingga Istana Negara.

Rasulullah SAW, memang patut dicintai dan diteladani seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Ahzab:21. “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah itu terdapat suri tauladan yang baik.”

Keteladanan itu bisa dicontoh oleh siapa pun, dengan latar belakang apa pun. Seorang jenderal militer dapat mengikuti strategi dan taktik perangnya. Nabi adalah seorang panglima perang ulung. Saat Perang Badar, Muhammad SAW memimpin pasukan muslimin yang hanya berjumlah 300 orang, dengan perlengkapan seadanya. Sedangkan kekuatan musuhnya, kaum Quraisy, tiga kali lipatnya, dipimpin antara lain oleh Abu Jahal.

Tak ingin kaum muslimin jatuh mentalnya, Muhammad berkata di hadapan mereka. Membakar semangat jihad untuk menghadapi musuh.

“Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad. Setiap orang yang sekarang bertempur dengan tabah, bertahan mati-matian, terus maju dan pantang mundur, lalu ia tewas, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga.”

Perang pun pecah di Jum’at, 17 Ramadhan. Serentak pihak muslimin menyerbu ke depan, masih dalam jumlah yang lebih kecil dari jumlah Quraisy. Kemenangan diraih kaum muslimin. Musuh lari tunggang-langgang. Sementara yang tak berhasil dibunuh dan menyelamatkan diri, ditawan oleh pasukan Muhammad.

“Sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah juga yang telah membunuh mereka. Juga ketika kau lemparkan, sebenarnya bukan engkau yang melakukan itu, melainkan Tuhan juga.” (QS.8:17).

Ketika Perang Uhud, 15 Syawal 3 H (Maret 625 M), kelihaian strategi perang Nabi Muhammad saw kembali teruji. Untuk menghadapi kaum Quraisy –yang mencoba membalas dendam akibat kalah dalam Perang Badr– pasukan Islam mengambil posisi di atas bukit Jabal Uhud. Strategi itu terbukti berhasil karena mampu menaklukkan musuh.

Sayang, kemenangan yang sudah di depan mata sirna ketika pasukan pemanah terpancing oleh ghonimah (harta rampasan perang, red). Mereka pun turun dari bukit dengan melawan instruksi Nabi saw. Maka pasukan Quraisy segera merebut posisi di atas bukit, dan dari situ menyerang pasukan Islam sampai menewaskan 70 syuhada.

Sementara, Perjanjian Hudaibiyah, menjadi potret ketajaman visi Rasulullah saw yang layak dicontoh pemimpin negeri ini. Perjanjian –yang dibuat agar kaum muslimin mendapatkan kemudahan jika hendak umrah dan haji di Mekah itu—mendapat protes keras dari sahabat Nabi. Umar bin Khattab menilai, perjanjian itu hanya menguntungkan Quraisy dan sangat merugikan umat Islam. “Bukankah Engkau utusan Allah, tetapi mengapa membuat perjanjian ini?” tanya Umar.

Ternyata, Perjanjian Hudaibiyah jus­tru menguntungkan kaum muslimin. Dilihat dari sudut politik, kaum muslimin mengalami dan mendapatkan perdamaian, sehingga tidak perlu lagi memusatkan ke­kuatan untuk menghadapi Quraisy. Di­lihat dari sektor pertahanan, kaum mus­limin di Madinah dapat menyusun kekuatan baru dengan aman tanpa merasa diancam terus-menerus dari luar.

Kaum muslimin dari Madinah dengan bebasnya bisa masuk ke Mekah tanpa mendapat tekanan dan ancaman. Mereka bisa bertemu dengan keluarga yang ada di Mekah. Di samping itu, kaum muslimin yang ada di Madinah bisa melakukan perdagangan di Mekah dengan bebas. Hubungan sosial antara kaum muhajirin yang telah meninggalkan Mekah ketika berhijrah, dapat terjalin kembali dengan keluarga dan sahabat di Mekah.

Sifat Nabi Muhammad saw yang adil, bahkan sudah ditunjukkannya jauh sebelum menjadi Rasul. Ketika ia ditunjuk untuk memutuskan siapa yang berhak membawa Hajar Aswad ke dalam Ka’bah oleh para Kabilah di Mekah, dengan bijak Nabi mengambil keputusan. Diambilnya kain, diletakkan Hajar Aswad diatasnya. Setiap perwakilan Kabilah memegang ujung kain tersebut. Semua pihak puas.

Kelembutan dan kasih sayangnya, ia perlihatkan saat menjadi orang pertama yang mengunjungi seorang nenek tua yang sakit. Padahal, nenek tersebut kerap meludahi Nabi Muhammad saw saat hendak pergi ke masjid.

Hari ini, sosok Rasulullah saw betul-betul kita rindukan di tengah kondisi umat yang terzalimi, ulama dikriminalisasi dan Islam dinista. Kita rindu pada sosok Nabi SAW yang pemberani dan berkata benar kepada Penguasa. Kita rindu pada Rasulullah SAW yang marah dan siap membela agamanya kala dihina, tapi bersabar ketika dirinya dinista.

Teringat ucapan terakhir beliau: “ummati…ummati…ummati.”

Rindu kami padamu, Ya Rasul…

Erwyn Kurniawan

Penulis dan Jurnalis

sumber : ngelmu

Wednesday, 7 November 2018

Demi Jilbab, Saya Memilih Menjadi Tukang Bersih-Bersih

View Article
Dalam salah satu kesempatan mengisi diskusi di grup WhatsApp mengenai jilbab, saya menceritakan kisah perjuangan para muslimah di sini, Polandia, dimana kebanyakan dari mereka adalah sister mualaf. Salah satu sister yang dekat dengan saya adalah Sister Cahaya.

Perjuangan dan keteguhannya memegang identitas sebagai seorang Muslimah, kadang membuat saya menangis terharu hingga saya tidak berhenti mengucap kalimat tahmid dan takbir.

Setelah ujian perihal mantan suaminya, Sister Cahaya masih terus berjuang dalam kondisi keluarga yang prihatin dan mencari pekerjaan dengan kondisi tetap berhijab. Pekerjaan sebelumnya sebagai nanny (pengasuh) dengan kondisi berjilbab membuatnya tak lagi dipekerjakan.


Ia bercerita pernah suatu waktu ia datang ke rumah untuk menjaga seorang bayi umur 8 bulan, entah mengapa ibu si bayi mulai merasa keberatan dengan jilbabnya.

“Kenapa kau tidak melepas penutup kepala itu, kau kan seorang Polish (Orang Polandia)?” begitu ibu si bayi mengeluhkan tentang jilbabnya.

Sister Cahaya menjawab, “Maaf Pani, saya tidak bisa, saya seorang muslimah,” begitu teguh meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Saya pernah memberanikan diri bertanya, “Sister, mengapa kau tidak menutup kepala seperti turban agar tidak begitu nampak, mungkin dengan begitu mereka akan tetap mempekerjakanmu?”

“Tidak … Tidak, sampai akhir napas, jilbab ini akan selalu saya kenakan, Sister. Tak ada siapapun atau apapun yang bisa menggantikan hidayah yang telah Allah karuniakan ini,” jawabnya penuh keteguhan.

“Hidup ini sementara. Saya berdoa saya kembali menghadapNya dalam keadaan taat. Apa yang perlu saya khawatirkan, Sister?” ujar Cahaya.

“Allahu Akbar … Allahu Akbar,” saya bertakbir dan memeluknya dengan haru.

Mari dengar apa yang hendak ia ucap saat saya kembali bertanya, “Lalu bagaimana sekarang kau menghidupi dirimu dan kedua orang tuamu?”

“Saya kerja jadi tukang bersih-bersih supaya tidak lepas jilbab. Tidak ada yang peduli atau keberatan dengan jilbab yang saya pakai. Saya lebih tenang dengan pekerjaan ini, Sister,” Ia mengucap kalimat di atas dengan binar bahagia. Semoga Allah merahmatimu, Kochana.

Saya kembali mendekat dan memeluknya. Aisha yang tengah memperhatikan kami tiba-tiba sudah berdiri di depan dan ikut memeluknya. MashaAllah, putri saya pun bisa merasakan ketegaran saudari dari negeri Sang Paulus ini.

Sister ini bagi saya tak sekadar teman, melainkan ada ikatan yang erat dan kuat yakni ikatan aqidah. Dan darinya saya belajar arti keteguhan dalam ucapan maupun perbuatan dalam menunjukkan identitas.

Ini saudari mualaf yang teguh dengan jilbabnya. Yang tak goyah dalam jalan imannya. Izinkan saya bertanya kepada saudari yang diberi kemudahan dan kelapangan:

Apa yang menghalangimu berjilbab?

Apa yang memberatkanmu berjilbab?

Apa yang membuatmu enggan berjilbab?



Oleh: Raidah Athirah

Kontributor IP, Penulis-Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Polandia








sumber :
eramuslim

Tuesday, 23 October 2018

Berbeda Bukan Berarti Salah

View Article
Berbeda Bukan Berarti Salah

Banyak jalan yang coba ditapaki para pendahulu kita untuk menyebarkan risalah islam. Buah dari usaha itu adalah munculnya berbagai gerakan dakwah dengan ciri dan tipikal khas masing2. Badiuzzaman Said Nursi dengan ciri khas bahasa dakwahnya yang lembut dan tinggi, menaklukkan hati, mengajak untuk terus berfikir dan berzikir.

Lihat pula Risalah dakwahnya syaikh syahid Hasan al Banna, kombinasi antara tazkiyah diri dan jihad siyasi. Menyadarkan betapa pentingnya politik dan kekuasaan, dengan tidak lupa terhadap kewajiban untuk selalu bersih2 diri.
Perhatikan juga ijtihad dakwah ismail al farouqi, "Islamization Of Knowledge" adalah usaha dakwah yang coba dibawanya untuk mengisi pos2 pembelajaran diruang akademik yang belakangan di dominasi liberalis. Semuanya bekerja dengan bahasa dan cara yang berbeda, tapi ghayah tetap sama, untuk Islam.
----------------------------
Jangan panik ketika ada yang berbeda manhaj dengan kita dalam dakwahnya, yang berbahaya itu adalah kalau hanya karna berbeda dalam perkara manhaj/cara/metode/ijtihad dakwah, lantas hal tersebut menjadikan kita buta, tak tahu mana kawan mana lawan. Kita telan semua yang tidak sebendera sewarna.

Meyakini bahwa jalan dakwah kita benar adalah penting, sebab kalau kita tidak yakin kenapa harus ditapaki?

Tapi berkeyakinan bahwa kitalah satu satunya pemilik kebenaran dan pemegang tunggal "ijazah" untuk berdakwah adalah kesalahan fatal. Pemahaman seperti ini akan memantik api permusuhan yang sulit untuk dipadamkan.

Islam adalah islam, banyak jalan menyampaikannya. Golongan apapun itu, selama didasari pemahaman islam yang benar, maka ia adalah bahagian dari islam. Jangan pahami bahwa golongan kita adalah islam dan islam adalah golongan kita, Engkau akan kafirkan orang yang tak sepaham denganmu, engkau akan bid'ah kan orang yang berlainan cara denganmu, kau akan sesatkan, salahkan, dan hukum sesiapapun yang engkau rasa tak sesuai denganmu. Sebab engkau berkeyakinan bahwa islam adalah golonganmu saja dan selain darinya adalah bukan. Juga kau meyakini bahwa pertolongan Allah hanya untuk golonganmu, kau lihat mereka yang tak berada dalam shafmu sebagai manusia yang kurang berislam, kau yakini bahwa Allah bersama jamaah dan jamaah itu adalah golonganmu saja, kau lupa ada jutaan muslim yang mungkin punya cara berbeda dengan caramu. Ada ratusan ulama dan pemikir islam yang berjalan berbeda dengan jalanmu.

Ada baiknya kita kaji lagi bahasan2 tentang fiqh ikhtilaf. Buka lagi buku2 fiqh perbandingan. Agar kita semakin mantap memahami bahwa yang berbeda dengan kita bukan berarti salah, dan kebenaran tak bisa di klaim hanya untuk kita saja. Pun juga agar bisa lebih menghargai hak2 mereka yang berbeda dengan kita.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا وأكل ذبيحتنا فذلك المسلم الذي له ذمة الله وذمة رسوله فلا تخفروا الله في ذمته.

Rasul Allah berkata, "Siapa pun yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat seperti kiblat kita, dan makan hewan kita yang kita sembelih, adalah seorang Muslim. Mereka berada di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya.

Jangan khianati Allah dengan mengkhianati mereka yang berada dalam perlindungan-Nya.

ولا تخونوه بانتهاك حقوقه
Jangan mengkhianatinya adalah jangan melanggar hak mereka. Caci maki, sumpah serapah, fitnah, ghibah adalah bagian dari pelanggaran hak terhadap saudara muslim kita. Kasihi dan hormati teman muslim kita, perlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Ayo hargai manusia, ayo baik bareng.

Ahmad Syauqi, Lc

Sunday, 7 October 2018

Perpisahan yang berkah

View Article
 Ini adalah pilihan dalam amal kebaikan, do'akanlah agar perpisahan itu membawa kebaikan, karena ukhuwah tidak akan musnah.

Berpisah dengan doa, tanpa kebencian dan cacian.

Tetaplah beramal karena kita akan ditanya atas apa yang kita lakukan sendiri. Setiap kita membutuhkan saudara nya, hingga di hari pengadilan pun, kita membutuhkan saudara kita.

Apa yang diperselisihkan tidak pernah lebih berharga dari hidayah, ilmu dan ukhuwah. Maka maknai lah perpisahan itu sebagai pilihan amal kebaikan, sebagai mana Musa dan Khidhir yang akhirnya harus berpisah.

Setiap orang punya keburukan sebagai mana ia juga punya kebaikan.

Ketahuilah, bahwa kebaikan kebaikan itu akan bertemu diakhirnya. Aamiin

Ingatlah pesan Al Qur'an, Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsir nya,

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: _sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian._ (Al-Anfal: 1) Yakni *janganlah kalian saling mencaci.*

Sehubungan dengan hal ini kami akan mengetengahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Ya'la Ahmad ibnu Ali ibnu Al-Musanna Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Ia mengatakan:

حَدَّثَنَا مجاهد بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ شَيْبَةَ الْحَبَطِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ، إِذْ رَأَيْنَاهُ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ ثَنَايَاهُ، فَقَالَ عُمَرُ: مَا أَضْحَكَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؟ فَقَالَ: "رَجُلَانِ جَثَيَا مِنْ أُمَّتِي بَيْنَ يَدَيْ رَبِّ الْعِزَّةِ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: يَا رَبِّ، خُذْ لِي مَظْلَمَتِي مِنْ أَخِي. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: أَعْطِ أَخَاكَ مَظْلَمَتَكَ. قَالَ: يَا رَبِّ، لَمْ يَبْقَ مِنْ حَسَنَاتِي شَيْءٌ. قَالَ: رَبِّ، فَلْيَحْمِلْ عَنِّي مِنْ أَوْزَارِي" قَالَ: وَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبُكَاءِ، ثُمَّ قَالَ: "إِنَّ ذَلِكَ لَيَوْمٌ عَظِيمٌ، يَوْمٌ يَحْتَاجُ النَّاسُ إِلَى مَنْ يَتَحَمَّلُ عَنْهُمْ مِنْ أَوْزَارِهِمْ، فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى لِلطَّالِبِ: ارْفَعْ بَصَرَكَ فَانْظُرْ فِي الْجِنَانِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: يَا رَبِّ، أَرَى مَدَائِنَ مِنْ فِضَّةٍ وَقُصُورًا مِنْ ذَهَبٍ مُكَلَّلَةً بِاللُّؤْلُؤِ، لِأَيِّ نَبِيٍّ هَذَا؟ لِأَيِّ صِدِّيقٍ هَذَا؟ لِأَيِّ شَهِيدٍ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا لِمَنْ أَعْطَى الثَّمَنَ. قَالَ: يَا رَبِّ، وَمَنْ يَمْلِكُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْتَ تَمْلِكُهُ. قَالَ: مَاذَا يَا رَبِّ؟ قَالَ: تَعْفُو عَنْ أَخِيكَ. قَالَ: يَا رَبِّ، فَإِنِّي قَدْ عَفَوْتُ عَنْهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: خُذْ بِيَدِ أَخِيكَ فَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ". ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ، فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُصْلِحُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"

telah menceritakan kepada kami Mujahid ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abbad ibnu Syaibah Al-Habti, dari Sa'id ibnu Anas, dari Anas r.a. yang mengatakan,

"Ketika Rasulullah Saw. sedang duduk, kami melihat beliau tersenyum sehingga kelihatan gigi serinya.

Maka Umar berkata, 'Apakah yang membuat engkau tertawa, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu?'

Rasulullah Saw. menjawab, 'Ada dua orang lelaki dari kalangan umatku sedang bersideku di hadapan Tuhan Yang Mahaagung, Mahasuci, lagi Mahatinggi. Lalu salah seorangnya berkata, 'Wahai Tuhanku, ambillah hakku dari saudaraku ini.'

Alloh Swt. berfirman, 'Berikanlah kepada saudaramu itu akan haknya.' Lelaki yang dituntut berkata, 'Wahai Tuhanku, tiada sesuatu pun dari amal baikku yang tersisa." Lelaki yang menuntut berkata, 'Wahai Tuhanku, bebankanlah kepadanya sebagian dari dosa-dosaku'."

Anas melanjutkan kisahnya, "Lalu kedua mata Rasulullah Saw. mencucurkan air matanya, kemudian bersabda, 'Sesungguhnya hari itu adalah hari yang sangat berat, yaitu hari manusia memerlukan orang-orang yang menanggung sebagian dari dosa-dosa mereka.'

Maka Allah Swt. berfirman kepada si penuntut, 'Angkatlah penglihatanmu dan lihatlah ke surga-surga itu!' lelaki itu mengangkat kepalanya dan berkata, 'Wahai Tuhanku, saya melihat kota-kota dari perak dan gedung-gedung dari emas yang dihiasi dengan batu permata. Untuk nabi manakah ini, untuk siddiq siapakah ini, dan untuk syahid siapakah ini?'

Alloh berfirman, 'Untuk orang yang mau membayar harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Siapakah yang memiliki harganya?' Allah berfirman, 'Engkau pun memiliki harganya.' Lelaki itu bertanya, 'Apakah harganya, wahai Tuhanku?' Allah berfirman, 'Kamu maafkan saudaramu ini.' Lelaki itu berkata, 'Wahai Tuhanku sesungguhnya sekarang saya memaafkannya.'

Alloh Swt. berfirman, 'Peganglah tangan saudaramu ini, dan masuklah kamu berdua ke surga'." Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: Karena itu, bertakwalah kalian kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara sesama kalian. Karena sesungguhnya Allah kelak di hari kiamat akan memperbaiki hubungan di antara sesama orang-orang mukmin.
tafsir Ibnu Katsir, surah Al Anfal : 1

Dikutip oleh m.n.k

Wednesday, 3 October 2018

Garbi, Gerakan Anak Muda Milenial

View Article
Realitas tidak boleh kita baca dari apa yang nampak saja. Tetapi dari apa yang tidak tampak. Begitulah faktanya bahwa semua perubahan besar tidak pernah bisa kita prediksi.
Inikah yang membuat orang sulit berubah? Ya salah satunya.

Orang-orang kebanyakan menghadapi ketegangan dengan mekanisme “membela diri” bukan mentalitas “prediktif” sehingga dilanda air bah perubahan yang mereka tak pernah mengerti. Bak katak di bawah tempurung. Maka, membaca peta dunia ini (termasuk politik Indonesia yang sedang bergolak) janganlah menggunakan realitas fisik apa yang terjadi pada setiap kubu.



Hijrah nabi dari Makkah ke Madinah yang kemudian dijadikan tonggak tahun Baru Islam. Ada yang kita lupa bahwa peristiwa hijrah itu bukan soal merancang perubahan saja tapi soal niat. Ini soal hati. Ketika Nabi SAW mengajak hijrah fisik dari Makkah ke Madinah, beliau tidak saja sedang menyelamatkan sebuah gerakan baru, tetapi juga menyeleksi generasi baru.

Maka, jika sebuah masyarakat baru atau gerakan baru lahir dari niat tulus dan bersih, maka tidak ada yang akan menghalanginya untuk menjadi dominan dan membesar seperti Islam dari kota Madinah.

Mari kita bersama-sama wujudkan Gerakan Arah Baru Indonesia.


#Garbi
#Gerakanarahbaruindonesia