Monday, 26 January 2015

Mahalnya Sebuah Hidayah

Nabi pernah menziarahi makam ibu beliau. Lalu beliau menangis.

Tangisan beliau tersebut membuat menangis orang-orang disekitarnya. Lalu beliau bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian.”
[HR Muslim]

Saudaraku...
Hidayah Rabb itu begitu mahal. Bahkan ibunda Rasulullah pun tak mendapatinya. Rasulullah menangis sesegukan di atas makamnya.

Hidayah tidak dapat dibeli,
hidayah tidak dijual,
pun hidayah tidak dapat dihadiahkan.
Sebab, hidayah hanyalah milik Rabb. Hak Rabb saja menganugerahkan kepada siapa hidayah-Nya.

Hidayah tidaklah diberikan kepada insan yang memiliki banyak materi. Namun, Rabb karuniakan kepada insan yang tulus mencintai, mencari, serta mempelajari al Haq.

Apabila hingga saat ini diri belum dapat mengecap manisnya hidayah, belum berpijak pada al-Haq, mari periksa diri. Barangkali jiwa merasa tinggi, barangkali diri malas mencari dan mempela­jari kebenaran, hingga hidayah itu enggan menyapa.

أسْتغْفر الّله الْعظيْم

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki".
[QS Al Qashash: 56].

Saudaraku...
Adakah getaran pada keping hati. Bagaimana dengan diri² kita ? Yang telah Rabb izinkan menerima tetesan taufiq hidayah-Nya... Masihkah hendak mensia-siakan ?

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.”
[QS Al ‘Imran: 8]


Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.