Wednesday, 18 February 2015

Kekuasaan, Pengikut, dan Harta

Tidak sedikit orang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuasaan, pengikut, dan harta. Bahkan, ada pula orang-orang yang meraihnya dengan cara-cara yang tidak halal, seperti dengan menyuap, menipu, dan korupsi. Berkaitan dengan tiga hal tersebut, Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk yang jelas bagi umatnya.

Sabda beliau, sebagaimana diceritakan oleh Ubaid Ibnu Umar, ''Semakin bertambah kekuasaan seseorang, maka semakin bertambah pula jauhnya dengan Allah. Semakin banyak pengikut seseorang, maka semakin banyak pula setan-setannya. Dan, semakin banyak hartanya, maka semakin keras pula peng-hisaban-nya.''

Kekuasaan itu ibarat sebuah pohon. Semakin tinggi pohon, maka semakin besar angin menerpanya. Semakin tinggi kekuasaan, semakin besar pula godaan untuk menyalahgunakannya. Semakin luas kekuasannya, semakin luas pula yang diurusinya.

Karena itulah, seseorang yang kekuasaannya bertambah, sebagaimana hadis di atas, dapat menyebabkan seseorang semakin bertambah jauh dari Allah. Dan, jika seseorang bertambah jauh dari Allah, maka pertolongan Allah pun akan semakin sulit diraihnya. Akibatnya, ia dapat terjerumus pada kehinaan dan kenistaan hidup yang tidak hanya dirasakan di akhirat kelak, tapi juga di dunia. Sejalan dengan kekuasaan adalah banyaknya pengikut. Pengikut yang banyak bisa menjadi penolong jika mereka mengikuti secara positif dan proaktif. Mereka selalu memberikan koreksi dan berusaha meluruskan jika yang diikutinya melakukan kesalahan.

Sebaliknya, pengikut bisa pula menjadi bencana, jika mereka mengikuti secara buta. Mereka tidak mau mengoreksi, jika yang diikutinya salah. Tetapi, mereka malah membenarkan dengan dalih yang mereka sendiri tidak mengerti. Pengikut seperti inilah yang Rasulullah sinyalir sebagai setan-setan yang dapat menjerumuskan. Mengenai harta, Rasulullah telah mengajarkan bahwa setiap apa yang kita miliki akan dimintai pertanggungjawaban. Artinya, semakin banyak harta yang dimiliki, maka akan semakin banyak pula yang harus dipertanggungjawabkan. Apalagi, apabila harta tersebut tidak pernah dikeluarkan zakat dan sedekahnya, maka siksa yang sangat dahsyat yang akan diterima.

Allah berfirman, ''Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allahlah segala warisan [yang ada] di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.'' (QS 3:180).

Uraian di atas memberikan gambaran dan pesan singkat dari hadis Rasulullah SAW bahwasanya kita harus hati-hati dalam berusaha mendapatkan dan menjalani kekuasaan, pengikut, dan harta. Gunakanlah cara-cara yang elegan, proporsional, sederhana, dan halal dalam memperolehnya. Dan, yang tidak kalah penting adalah persiapkan diri dengan kematangan jiwa dan keimanan agar tidak salah dalam melangkah.

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.