Sunday, 22 February 2015

Logika Akal Bukan Untuk Beragama


Logika dan Agama

Seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah khuf (sepatu) lebih pantas untuk diusap daripada atasnya. Sungguh aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap bagian atas khufnya (sepatunya).” (HR. Abu Daud no. 162. Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom bahwa sanad hadits ini hasan. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini).

Kita mungkin sering atau paling tidak pernah membaca hadits diatas bukan? Atau kita mungkin juga pernah mendapat pertanyaan dari anak anak kita dengan pertanyaan seperti ini : “Ayah kalau kita kentut kata pak ustad batal wudhu kita, terus kalau kita wudhu kenapa muka kita yang dibasuh? kan yang kentut pan**t (Sensor hehehe). Pasti kita sebagai ayah yang newbie atau ayah baru pasti bingung mau jawabnya kan? Sebenarnya jawabnya cukup mudah kita tinggal bilang aja sama anak anak kita, nak kalau beragama itu gak harus memakai akal atau logika, beragama itu harus dengan dalil dan contoh yang dipraktekkan Nabi Muhammad SAW.  Kalau yang berlogika dalam beragama itu anak kecil kita masih bisa memaklumi, karena anak kecil masih mempunyai rasa ingin tau yang sangat tinggi. Lah ini yang berlogika dalam agama orang yang sudah berumur alias sudah dewasa hehee.

Begini ceritanya, saat sholat berjamaah di masjid seperti biasa sang imam mengingatkan jamaah untuk merapatkan dan meluruskan shof atau barisan jamaah, karena lurus dan rapatnya shof itu keutamaan dalam sholat berjamaah. Tapi ada salah satu jamaah nyletuk, “udah gak usah rapat rapat, kalau kita nanam jagung kalau dengan jarak yang rapat hasilnya gak akan bagus, lain hasilnya kalau kita nanamnya dengan jarak yang renggang, jagung yang dihasilkan akan gede gede dan banyak. Jadi gak usah rapat rapat barisannya biar dapat pahala yang banyak dan gede”.   Astaghfirullah ada juga ya orang berpikiran begitu, memang jaman akhir.

Dalam meyakini suatu akidah dalam Islam mesti dengan dalil. Dalam menetapkan suatu amalan dan hukum pun dengan dalil. Kalau seandainya agama dengan logika, maka tentu bagian bawah sepatu (khuf) lebih pantas diusap daripada bagian atasnya. Namun ternyata praktek Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang diusap adalah bagian atasnya. Kalau logika bertentangan dengan dalil, maka dalil tetap harus dimenangkan atau didahulukan.

Syaikh Sholeh bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh hafizhohullah berkata, “Hendaklah setiap muslim tunduk pada hadits yang diucapkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah sampai seseorang mempertentangkan dalil dengan logika. Jika logika saja yang dipakai, maka tidak bisa jadi dalil. Ijtihad dengan logika adalah hasil kesimpulan dari memahami dalil Al Qur’an dan hadits.”  (Syarh Kitab Ath Thoharoh min Bulughil Marom, hal. 249). Wallahu ‘alam bis showab *jnd








































Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.