Tuesday, 24 February 2015

Luwih Enak Dijongkrokno Tapi Mlebu Surgo, Tinimbang Prosotan Tapi Mlebu Neroko



Dijongkrokno
Saat menghadiri majelis taklim pekanan, saya tertarik dengan ucapan sang ustad saat memberi motivasi kepada para hadirin yang hadir; Ustad tersebut berkata “luwih enak dijongkrokno tapi mlebu surgo, tinimbang prosotan tapi mlebu neroko”; terjemahannya kurang lebih begini : lebih Baik didorong tapi masuk surga, daripada berseluncur tapi masuk neraka.

Memang beribadah itu sungguh sangat sangat berat untuk melaksanakannya dengan istiqomah, sehingga kadang kita perlu “dipaksa” untuk melaksanakannya. Persis seperti kata pak ustad tadi, harus “dijongkrokno”; ya dipaksa; kita harus memaksakan diri untuk melakukan sholat berjamaah 5 waktu di masjid, tilawah Al-Quran minimal 1 juz perhari, Puasa Sunnah Senin – Kamis, Qiyamul Lail atau Sholat Tahajud minimal 3 kali sepekan, kita juga harus memaksanakan diri untuk selalu berinfaq baik saat banyak rejeki ataupun saat sepi dari rejeki. 

Memang suatu kebaikan itu sangatlah berat untuk kita lakukan kalau belum terbiasa, selain godaan nafsu untuk selalu berleha leha. Syetan pun akan membisikan ke hati kita untuk tidak melakukan amalan amalan sunnah tersebut. Kita ibaratkan kita mengayuh sepeda, pada awal mengayuh terasa berat memang, tapi seiring bergelincirnya roda, kayuhan kita pasti akan ringan. Begitupun dengan melaksanakan ibadah sunnah macam Puasa Senin Kamis, Qiyamul Lail, Tilawah AlQuran, sholat berjamaah dimasjid, berinfaq, dll. Diawal kita melakukannya pasti kita akan merasa berat dan enggan. 

Saat tilawah Alquran, godaan awal untuk istiqomah bertilawah adalah rasa malas dan kantuk.  Belum juga dapat satu halaman kita bertilawah, rasa kantuk sudah menghampiri. Tapi dengan dipaksa pasti kita akan mampu melewati tantangan kantuk tadi. Kita harus dipaksa dengan mengetahui fadhilah atau keutamaan orang yang rutin membaca alquran agar semangat mengaji senantiasa tertanam dalam hati. 

“Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]

Disaat kita mempunyai tekad yang kuat untuk selalu melaksanakan Tahajud, pasti kita harus menghadapi dulu tantangan rasa malas dan rasa kantuk yang tak tertahankan, syetan akan membisikan ke telinga kita, udah tidur aja, malam malam dan dingin pula lebih enak tidur, besok besok aja tahajudnya. Tapi In Sya Allah semua tantangan tersebut akan terkalahkan jika kita memahami manfaat dan keutamaan dari qiyamul lail : 

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : telah bersabda Rasulullah saw, “Seutama-utama puasa setelah ramadhan ialah (puasa) di bulan Allah, Muharram, dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib ialah shalat malam (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasaa’i dan Ibnu Khuzaimah).

Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (QS. Al Muzzammil : 6)


Ya Kita memang harus dijongkrokno, asal masuk surga, dari pada “prosotan”  tapi masuk neraka. Wallahu’alam, semoga bermanfaat. *jnd

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.