Thursday, 17 September 2015

Makkah

Tanah Haram

Oleh: Haji Michael Wolfe
(Penulis tinggal di Amerika, nukilan ini digubah dari bukunya The Hadj, 1994 oleh Dzikrullah)
Sumber: Hidayatullah Online

"Amerika perlu memahami Islam, karena inilah suatu agama yang menghapus problem ras dari masyarakatnya." —Malcolm X


Ibadah haji membuat orang memahami lebih baik kehidupan masa lalunya. Demikianlah yang terjadi pada diriku. Mulanya aku seorang Yahudi, semata-mata karena ayahku Yahudi dan ibuku Kristen. Aku dibesarkan di lingkungan yang mementingkan soal ras. Islam memberiku sesuatu yang sangat berbeda.

Pada awal usia 20 tahunan aku melancong ke Maroko di Afrika Utara dan merasakan nikmatnya bergaul rapat dengan orang-orang kulit berwarna dari berbagai suku bangsa. Arab, Badui, bahkan orang Eropa, dan mereka semua Muslim.

Berbeda dengan orang Eropa dan Amerika, Muslim mengkelas-kelaskan orang menurut iman dan akhlaknya. Aku merasa ini sesuatu yang wahyuis dan menyegarkan.

Karena latar belakang yang campur aduk, waktu remaja secara bergantian aku mengikuti acara-acara keagamaan menurut agama ayah dan ibu. Efek kedua agama ini bagiku sama mendalamnya. Tetapi yang satu selalu menekankan ide "Ummat Pilihan" yang selalu kutentang; sementara yang satunya, yang dianut berdasarkan misteri, membuatku jengah.

Seabad sebelumnya, nama nenek buyut canggah dari ibuku sudah diabadikan di kaca jendela Gereja Kristus High Street di Hamilton, Ohio. Saat berusia 20 tahun, kebanggaan itu sudah tak berarti apa-apa bagiku.

Di Makkah, saat melantunkan talbiya perasaan itu semakin mantap. Tak seperti di Maroko, di Arab Saudi aku tak punya seorang temanpun. Tapi perasaan nyaman berada di antara ribuan orang yang bertujuan hidup sama lebih-lebih terasa lagi.

Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu! Aku penuhi panggilan-Mu karena tak ada sekutu bagi-Mu.
Aku penuhi panggilan-Mu!
Sungguh segala puji, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan ini hanya bagi-Mu.
Tak ada sekutu bagi-Mu.


Bait ini adalah simbol suci ibadah haji, sebagaimana ihram. Aku mendengarnya terus berulang-ulang siang dan malam selama berminggu-minggu. Talbiya artinya “bersiaga untuk seruan, perintah, atau arahan”. Salah satu fungsinya untuk menjernihkan pikiran, dan mempersiapkan diri menghadapi apapun.

Sejak dalam van yang kami tumpangi meninggalkan bandara internasional Jeddah, bait ini sudah kami lantunkan. Lama kelamaan di dalam tidur pun aku mendengarnya.

Saat-saat ihram juga memberi kesan kuat bagi diriku. Ia seakan-akan mengakhiri semua lembaran hidup yang sebelumnya. Pakaian seragam yang amat bersahaja ini menghapus semua perbedaan kelas dan kebiasaan budaya. Kaya miskin sama-sama dibalut olehnya. Ihram ini pakaian yang sangat demokratis bagaikan kain kafan. Memang demikianlah maksudnya.

Sebagian orang Barat menganggap Makkah kota yang terlarang bagi orang asing. Nyatanya, kota ini justeru ada untuk menerima sebanyak mungkin orang asing, kecuali non-Muslim. Sebagian besar penduduknya adalah para pendatang dari berbagai penjuru dunia sejak 13 abad yang lalu. Mereka menunaikan haji dan tak pernah pulang ke negeri asalnya lagi. Walhasil, Makkah merupakan kota kosmopolitan, semua bangsa menanam akar di sini. Mereka semua Muslim.

Tak sabar rasanya kami membereskan berbagai urusan barang dan masuk hotel di jalan Umm Al-Qura di dekat Masjidil Haram. Kami menuju masjid ditemani Syeikh Ibrahim, seorang professor ilmu hadits di sebuah universitas di kota ini. Ia lembut dan pendiam.

Dalam perjalanan Ibrahim berkata, "Harap diingat: Ka'bah itu sebuah rumah suci. Tapi tidak sesuci orang-orang yang mengelilinginya."

Jarinya menunjuk ke tanah, membentuk lingkaran.

"Apapun yang Anda lakukan di sini, jangan melukai seseorang, bahkan tanpa sengaja sekalipun. Kita akan melakukan 'umrah sekarang. Kita akan menyapa masjid ini, mengelilingi Ka'bah, berjalan tujuh kali di antara kedua bukit itu, seperti Siti Hajar. Anggaplah ini gladi resik haji. Tak usah tergesa-gesa, tak usah mendorong-dorong. Santai saja. Kalau ada yang srudak-sruduk menyingkir saja. Kalau Anda menyakiti seseorang, ibadah bisa tidak diterima. Percuma saja."

Kebanyakan jama'ah haji yang tiba di Makkah memasuki Masjidil Haram melalui Baabus Salaam, "Pintu Keselamatan". Penjelajah Muslim ternama Ibnu Battutah masuk lewat pintu ini; juga pendahulunya, Ibnu Jubair, yang menulis kisah terkenal tentang perjalanan hajinya di tahun 1184 Masehi. Malam ini orang begitu ramai, kami tak bisa melakukan apa yang dilakukan Ibnu Battutah. Kami masuk lewat Baabul Malik.

Beberapa menit kemudian aku sudah berada di tengah pusaran emosi dan kekhusyukan massal yang mengelilingi Ka'bah.

Pemandangan pertama tentang Ka'bah begitu mengagumkan. Puluhan lelaki menangis menggumamkan doa di tempat mereka berdiri. Beberapa wanita menyandarkan lengannya ke dinding Ka'bah, memeras air mata mereka.

Kumulai langkah kakiku tepat di garis yang sejajar dengan batu hitam Hajarul Aswad yang pernah dicium Nabi, sambil menggumam:

Ya Allah, aku berniat mengelilingi rumah suci-Mu. Mudahkanlah bagiku, dan terimalah tujuh putaran ini dalam nama-Mu.

Pelan-pelan, dua tetes air hangat mengaliri kedua pipiku.

* sumber : milis daarut tauhid at yahoo dot com
foto dari : http://www.kabarmakkah.com/

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.