Thursday, 17 September 2015

‘Si kecil' Dalam Episode Kehidupan

Kecil, mengandung makna “sederhana” dalam kamus percakapan kita sehari-sehari, maka sikap logis yang muncul selalu rasa meremehkan kepadanya. Dan logika terbalik yang muncul adalah mengagungkan dan memprioritaskan yang besar.

Mesti dalam dunia ini ‘si besar’lah yang akan dihormati, diagungkan, dipuja-puja, bahkan disembah. Yang heran, tak ada perasaan risih apalagi malu ketika pemujaan kepada yang “besar” telah melewati batas moralitas, malah bangga, karena selalu ada hadiah yang akan diperoleh dari sikap pemujaan tadi.Tapi ‘si kecil’ dicemooh, dijauhi, dimusuhi dan dibenci.

Di dalam setiap interaksinya dengan ‘si besar’, ‘si kecil’ akan selalu kalah terkadang sampai “babak belur” sering menjadi the object daripada the subject, menjadi penonton daripada aktor, hingga akhirnya sampai tidak mungkin bagi ‘si kecil’ menempati posisi di atas ‘si besar’, atau bahkan sejajar sekalipun.

Padahal kalau saja ‘si besar’ lebih sering melihat ke bawah daripada ke atas, mungkin sense berfikirnya yang lebih materialistis bisa berubah. Ini ironisnya, sering sekali banyak orang lupa saat dirinya menjadi besar, padahal kebesarannya itu karena saham ‘si kecil’. Inilah fenomena kehidupan ‘si kecil’di ladang dunia.

Di ladang yang lain seperti amal sholeh. Kebanyakan dari manusia memposisikan ‘si kecil’ menjadi sangat tidak berdaya. Sikap prioritas kepada ‘si besar’ lebih dominan. Padahal di dalam ladang ini (amal sholeh), posisi ‘si kecil’ bisa menjadi the subject dan bahkan bisa menjadi standar nilai kebaikan bagi ‘si besar’.

Budaya melakukan amal-amal yang kecil akan berdampak besar bagi amal yang lebih besar sebab posisi ‘si kecil’ terhadap kebaikan berperan sebagai sarana pembiasaan (wasilah al-ta’wid) sebelum mencapai kepada kebaikan yang lebih besar.

Tampak terasa, sebagian orang yang telah terbiasa melakukan penipuan berskala besar, seperti melakukan KKN, ternyata mereka telah terbiasa melakukan kesalahan yang kecil sejak masa kecil dengan mencontek atau sekedar berbohong kepada orang tuanya.

Dalam contoh lain, budaya mengucap salam, berjabat tangan dan bersenyum ria di saat terjadi perjumpaan, ternyata mempunyai dampak baik bagi minimalisasi permusuhan dan konflik.

Masih banyak lagi contoh, yang itu semua kita anggap kecil, padahal ternyata sangat besar, berpengaruh dan memiliki saham di dalam kehidupan sehari-hari. Kini, mari kita mulai menata diri kembali, dengan memulai dari yang kecil terlebih dahulu. Karena ‘si kecil’bisa sangat fenomenal.


Sumber :Irfanuddin
[irfan_libya@yahoo.com.au]

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.