Saturday, 19 December 2015

Rasanya Baru Kemarin....

Rasanya baru kemarin pohon kersen di depan rumah kutanam. Saya mengambilnya dari kebun liar selagi ia masih sebesar daun ketela yang masih muda. Hati-hati saya membawanya dengan setangkup tangan yang terus merapat sampai ke rumah. Sesampainya di rumah saya langsung menanamnya di halaman depan, memagarinya,  menyiraminya setiap pagi dan sore, menghalau setiap unggas yang berupaya memakan daunnya.

Tapi, kemarin sore Bapak saya  terpaksa menebang pohon kersen itu setelah sekian tahun tumbuh semakin membesar dan mengganggu kabel listrik depan rumah. Daun-daunnya yang mulai rontok, badannya yang besar tak sanggup lagi kurangkul. 

Rasanya belum lama, saya masih senang berpangku di pelukan ibu, bermanja mengharap dongeng pengantar tidur darinya. Ibu mengerti, saya tak akan pernah tidur sebelum ia mengusap lembut punggungku selama beberapa menit sambil menggumamkan senandung nina bobo atau sholawat nabi.

Tapi hari ini, tangan lembut ibu yang biasa membelai punggungku itu sudah keriput, walau masih terasa halus tatkala kuangkat dan kulekatkan ke pipiku, atau saat aku menciumnya sebelum berangkat kerja.

Sore itu, rasanya baru saja saya menanggalkan pakaian hijau putih seragam Madrasah Ibtidaiyah untuk bergegas bermain sepak bola dengan teman-temanku di lapangan bola dekat rumah. Masih terngiang sangat jelas di telinga ini omelan ibu sepulang saya main bola lantaran pulangnya kesorean. Atau karena kaos yang berlumur tanah dan memberatkan ibu mencucinya.

Tapi pagi ini, seperti pagi sebelumnya, mengantar si kecil ke rumah mbahnya sebelum saya berangkat kerja. Hari ini, tepat 3 tahun usia Akhdan, anak nomer 2 Saya.

Rasanya belum terlalu lama, saya mulai mengenal lawan jenis. Ada seorang teman wanita yang menaruh hati karena satu hal, saya sering jadi "tutor dadakan" untuknya di salah satu mata pelajaran

Dan ini benar benar, rasanya baru kemarin saya menyandang gelar suami, tapi kini Saya sudah punya pasukan kecil, ya 2 jundi kecil kami Alif dan Akhdan, dan 8 tahun sudah usia pernikahan saya dengan seorang wanita sholihah insyaAllah; pilihan seorang guru ngaji.  

Rasanya baru kemarin saya menerima nasihat dari sang kakak, agar mengikuti kegiatan tolabul ilmu, tapi kini sudah 3 tahun berlalu sang kakak sudah dipanggil sang Khaliq. Teriring doa Allahumma firlahu warhamhu waafihi wa'fuanhu, semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya di dunia, dan menerima amal baiknya. Aamin


Sahabat, demikian cepat waktu berlalu. Sementara, sekian banyak waktu itu terbuang tanpa banyak hal yang kita perbuat menjelang ajal yang datangnya pasti. Mungkin besok. Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.