Monday, 14 March 2016

Kita, Hawa Nafsu, dan Istiqomah

Jalan Istiqomah
Serangan hawa nafsu terkadang terasa begitu kuat, berusaha mencerabut dan membetot kita, mengambil alih kendali diri, dan selanjutnya menyimpangkan kita dari jalan ketaatan. Jika sudah begitu kuat, panji-panji istiqomah yang kita pegang pun runtuh... menyisakan penyesalan dan kesesakan dada. Duhai, begitu kuat serbuannya.

Begitulah ketika hawa nafsu muncul, akan meluluh lantakkan kesehatan jiwa. Karena demikianlah hawa nafsu, selalu mengajak kita pada jalan-jalan kejelekan, dan menjauhkan kita dari jalan-jalan yang mengantarkan kita ke negeri kesejahteraan yang abadi, jannah-Nya, yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

Padahal, memegang panji-panji istiqomah adalah sebuah keniscayaan. Dalam shahih Muslim, Abu Amr Sufyan bin Abdullah bercerita bahwa dia berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu." Bersabda Rasulullah: 'Katakanlah: Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah kamu.'"

Umar bin Khatab berkata tentang para shahabat. Menurut beliau, para shahabat beristiqomah demi Allah dalam mentaati Allah dan tidak sedikit pun mereka berpaling sekalipun seperti berpalingnya musang. Maksudnya, bahwa mereka lurus dan teguh dalam melaksanakan sebagaian besar ketaatan kepada Allah, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan sampai meninggalnya.

Begitulah mereka, sebaik-baik kurun yang telah mendapatkan keridhaan Allah. Sementara kita? lebih banyak meninggalkan perintah-perintahnya dan melanggar larangan-larangannya. Adalah Abu Hurairah, ketika beliau berada diambang kematian, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab: "Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, bisa ke jannah, bisa juga ke Naar."

Duhai, dimana posisi kita di antara mereka?

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.