Monday, 13 June 2016

Mendikte Tuhan

Dunia yang semakin materialistis. Serta kepungan kapitalis. Membuat kehidupan kian terkikis. Sulit segala keinginan di tangkis. Bujukkan iklan menggoda disajikan dan sangat sistematis.

Rayuan iklan membuat tumpukan keinginan kian menggunung. Bahkan terbawa dalam renung. Hingga ibadah-ibadah yang dilakukan serba tanggung. Terbayang THR, tetangga sudah punya mobil baru lagi, hingga tanah kelahiran, kampung.

Mulai mendikte Tuhan dalam pinta. Fokus pada keinginan dalam doa. Berdoa seperti bisnis, selalu berpikir dapat apa?

Bila tak terkabul, dengan mudah berucap, “Tuhan tak sayang, Tuhan tak adil?”

Segunung fonis ia bawa, padahal tangannya masih menengadah.

Air matanya kering-kerontang dalam doa. Namun, saat melihat bintang pujaan di layar kaca, tersakiti. Air matanya tak terbendung. Tangis suka cita atau duka cita yang keluar. Bingung membedakannya.

Bila guru mendikte murid. Saat berlatih menulis, itu bagus!

Tapi mendikte Tuhan dalam doa? Oh malang nian hamba, ya Rabb.

Sampai kudapati sebuah jawaban. Saat dunia makin bergetah. Ada secercah harapan. Dari nasehat seorang sahabat.

“Pada Allah azza wa jalla harusnya fokus memberikan amal terbaik kita, bukan pada apa yang kita inginkan” ( Ellina Supendy )

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.