Monday, 13 June 2016

Menjadi Good Apple

Good Apple

Disadari atau tidak, banyak sifat orang tua yang menurun pada diri kita. Sebagaimana apel jatuh tak jauh dari pohonnya, demikian pula air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Terkadang, ada sifat yang sama persis, kadang sedikit berbeda versi dan varian. Seperti yang sering dibahas saat mengkaji ilmu genetika.

Permasalahannya, banyak orang menggeneralisir sifat anak sebagai buah dari sifat orang tuanya atau sebaliknya. Padahal bisa jadi banyak pengaruh dari luar yang ikut berperan, berupa teman pergaulan, pengalaman, pendidikan dll yang membuat anak terlihat berbeda dengan orang tuanya. Disini muncul pilihan bagi kita, mau jadi good apple atau mau jadi bad apple.

Buah Doa dan Harapan

Nabi ibrahim berdoa kepada Allah agar diantara anak keturunannya ada yang menjadi rasul, yang membacakan wahyu, mensucikan jiwa kaumnya serta mengajarkan mereka kitab dan hikmah. Sekian ratus tahun berlalu, muncullah Nabi Muhammad yang bersabda “Ana da‘wati abi Ibrahim”. Betul, rasulullah menyatakan bahwa dirinya adalah buah pengabulan dari doa kakeknya terdahulu, yakni Nabi Ibrahim.

Seorang anak membawa nama orang tuanya. Jika kita melakukan perbuatan dosa dan melanggar hukum, maka nama orang tua ikut hancur. Namun jika kita menorehkan prestasi, maka nama orang tua ikut harum. Menjadi good apple berarti senantiasa menjaga perbuatan diri kita agar kehormatan orang tua tetap terjaga. Tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah, tapi diluar rumah masyarakat menaruh hormat kepada orang tua disebabkan catatan kebaikan yang dilakukan oleh seorang anak.

Ada doa nabi ibrahim yang selayaknya kita tempatkan sebagai doa pengharapan dari orang tua kita semua. Yakni “Waj’allii lisaanan shidqin fil akhiriin”. Agar orang tua kita menjadi buah bibir yang baik dan positif bagi masyarakatnya. Ini dalam arti yang sebenarnya, bukan sekedar formalitas saat tahsinul mayit oleh kayim atau sekedar mengikuti seruan untuk tidak membicarakan orang yang sudah meninggal kecuali kebaikannya saja. Lalu apa yang bisa kita tempuh untuk mewujudkan doa mereka itu?

Pertama, Mengarahkan Potensi

Sadarilah, sesungguhnya diri kita adalah cerminan dari orang tua. Jika saat ini kita lihai bersilat lidah dan menganalisasa suatu fenomena sosial bisa jadi karena orang tua kita punya hobi sebagai komentator dirumah. Meski kita mewarisi sifat dan karakternya, namun bisa kita arahkan agar tersalurkan pada ranah yang positif, dengan hujjah yang kuat, serta wacananya bisa bermanfaat bagi sesama dll.

Jangan sampai sifat bawaan tersebut disalurkan secara negatif. Misalnya ngerumpi, menggosip atau malah menyebar fitnah. Karena hal itu berpotensi merusak nama baik orang tua, selain nama kita juga ikut hancur. Nanti pasti akan ada yang bilang “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.

Kedua, Menjaga Rahasia

Ada sebagian orang yang senang mengadukan kejelekan orang tuanya kepada temannya. Entah karena ilmunya yang dangkal, pengalamannya yang minim, sifatnya yang keras kepala dan mau menang sendiri dll. Mungkin hal itu memang benar adanya, dan kita tidak betah dirumah karena merasa terkekang. Masalahnya, apa manfaat yang bisa kita dapatkan dari membuka aib rumah tangga kepada pihak luar?

Mereka yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, mereka yang awalnya simpati berubah menjadi apriori, mereka yang benci jadi punya peluru untuk mencibir dan menghina. Artinya, tidak ada kehormatan apapun yang tersisa jika seorang anak sampai menceritakan perihal orang tuanya kepada rekan sejawat atau khalayak umum. Kita perlu merenungi falsafah jawa yang dipopulerkan oleh HM Soeharto yakni “Mikul dhuwur, mendem jero”.

Ketiga, Menisbatkan Kebaikan

Orang – orang shaleh menisbatkan kebaikan kepada Allah dan menisbatkan kesalahan pada diri sendiri atau kepada setan. Maka seorang anak yang berbakti akan menisbatkan kebaikan dirinya sebagai buah dari kebaikan orang tuanya. Sebagaimana mereka beramal shaleh atas nama orang tuanya atau melakukan amal kebajikan dengan pahala bagi orang tuanya.

Jika kita memiliki ilmu yang tinggi, itu karena dikuliahkan oleh orang tua. Jika kita punya usaha yang sukses, itu karena dibina oleh orang tua. Namun sebaliknya, jika kita kena musibah itu karena hukumann perbuatan durhaka kepada orang tua. Pola inilah yang sering dipraktekkan oleh Imam Ahmad bin Hambal. Jika terkena suatu musibah, beliau pulang ke rumah dan langsung meminta maaf kepada ibunya dan memperbaiki hubungan. Tak peduli apapun jenis musibah dan kemalangan yang menimpanya.

Khatimah

Menjadi anak yang berbakti itu tidak semudah apa yang kita bayangkan. Belum tentu kita sejalan dengan orang tua seputar pekerjaan, jodoh, penjurusan akademik, orientasi politik, amaliah agama, aktivitas sosial hingga sekedar pilihan channel televisi. Tapi apapun yang terjadi didalam rumah, tetaplah berperan sebagai good apple bagi mereka, bukan bad apple. Agar kita bisa menjawab doa nabi Ibrahim yang menjadi impian semua orang tua. Agar kelak, anak kita juga bisa menjadi good apple bagi kita. Wallohu a’lam.



sumber : Oleh: Eko Jun

Relawan Literasi Jawa Tengah

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.