Wednesday, 3 August 2016

Menjadi Mulia : Karena Ilmu atau Harta

Manusia dari tanah
Dalam pandangan banyak orang, standar kemuliaan seorang insan teramat sangat beragam. Hampir disetiap daerah atau budaya memiliki standar yang berbeda tentang hakikat kemuliaan. Dalam lingkungan feodal atau budaya kerajaan misalnya, standar kemuliaan biasanya identik dengan silsilah garis keturunan. Mereka yang lebih dekat dengan keturunan raja, otomatis anggap dianggap lebih mulia dengan status “keningratan” yang dimiliki, daripada mereka para abdi dalem atau bahkan rakyat biasa. Bahkan kemuliaan tersebut terkesan berlebihan hingga disandarkan istilah “darah biru” bagi mereka yang memiliki garis keturunan ningrat tersebut.

Tak jauh berbeda dengan mereka yang menjadikan keturunan sebagai standar kemuliaan, ada juga yang meyakini bahwa bentuk fisik dan warna kulit sebagai standar kemuliaan seseorang, yang dalam tahapan lebih parah berujung pada perilaku rasisme.

Sejarah panjang mencatat bagaimana perilaku dan keyakinan rasisme telah banyak menghinakan kemanusiaan dan menumpahkan banyak darah. Dari mulai perbudakan masa kejayaan Yunani dan Romawi, kemudian berlanjut pada Abad ke-16 dimana Eropa mendatangkan orang Afrika berkulit hitam dan dianggap sebagai budak barang dagangan. Tercatat sekitar 11,8 juta rakyat Afrika diperdagangkan selama masa Perdagangan Budak Atlantik, di mana sekitar 10 sampai 20% nya tewas dalam perjalanan menyeberangi samudra Atlantik . Kemudian bagaimana Ras Aria di Jerman menumpahkan banyak darah pada etnis lainnya pada masa perang Dunia II salah satunya karena kebanggaan atas suku bangsa dan merendahkan yang lainnya. Hal yang sama juga terjadi pada kasus pengusiran warga asli Indian di Amerika, dan suku Aborigin di Australia. Semuanya bisa jadi berawal dari menjadikan bentuk fisik dan warna kulit menjadi standar kemuliaan yang digadang-gadang.

Sementara itu dalam budaya masyarakat modern kapitalis seperti saat ini, yang menjadi standar kemuliaan seseorang biasanya tidak terlepas dari : kekayaan, kekuasaan dan popularitas. Mereka yang memiliki kekayaan, kekuasaan dan popularitas dianggap sebagai manusia termulia yang layak mendapatkan penghormatan luar biasa. Banyak anak kecil dan anak muda yang bermimpi menjadi artis, pengusaha, dan pejabat demi mendapatkan kemuliaan tersebut. Gelaran kontes Idol dimana-mana menjadi salah satu bukti bagaimana cara mereka memimpikan sebuah kesuksesan.  Kekayaan hampir dianggap bisa menyatukan semuanya, dengan kekayaan maka kekuasaan akan mudah diraih, begitu juga popularitas. Sudah bukan rahasia lagi, banyak pengusaha sukses tampil menjadi pejabat dan penguasa dalam even pilkada dengan mengandalkan kekayaannya. Lengkap sudah kekayaan menjadi impian sebagian besar masyarakat dengan jargon yang melenakan : “ kecil dimanja, muda foya foya, tua kaya raya, mati masuk surga”.

Syariat Islam yang indah mengajarkan sesungguhnya hakikat dan standar kemuliaan bagi setiap insan. Bukan tentang keturunan, harta, apalagi sebatas bentuk fisik dan warna kulit, tetapi jauh dari hal tersebut, yang menjadi acuan kemuliaan seorang manusia adalah ketakwaan yang dimiliki.  Dalam hal disebutkan dalam Al-Quran maupun As-Sunnah, diantaranya Allah SWT berfirman : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Adapun dalam hadits,  Rasulullah SAW membantah standar fisik dan harta sebagai kemuliaan, ia bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim ). Dalam riwayat yang lain, beliau juga menegaskan kembali tentang takwa sebagai standar dan indikator kemuliaan seseorang, beliau bersabda  kepada Abu Dzar : “Lihatlah, engkau tidaklah akan baik dari orang yang berkulit merah atau berkulit hitam sampai engkau mengungguli mereka dengan takwa.” (HR. Ahmad)

Menjadi Insan Mulia dengan Ilmu dan Harta ?
Ketakwaan adalah indikator utama dalam kemuliaan seorang insan. Adapun tentang bagaimana ciri orang bertakwa, teramat banyak disebutkan dalam Al-Quran, dan insya Allah akan kita bahas secara tersendiri. Hal lain yang menarik juga untuk dikaji, bahwa dari sekian indikator kemuliaan seorang insan dalam pandangan masyarakat, ada dua hal yang juga diakui tersendiri oleh Islam, yaitu : ilmu dan harta.

Dalam Islam keduanya mendapatkan tempat tersendiri, yang mana mereka yang memiliki dan menggunakannya dengan baik, juga akan mendapatkan kemuliaan. Tentang kemuliaan insan yang berilmu misalnya, Allah SWT berfirman dengan jelas : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Mujadalah 58).

Begitu pula dalam hadits, Rasulullah SAW menjelaskan tentang indikator keunggulan, beliau bersabda : “Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama).” (HR. Bukhari )

Adapun tentang harta, dalam AlQuran sendiri dalam beberapa tempat disebutkan dengan istilah “khoir” yang berarti kebaikan. Dalam surat An-Nisa ayat 5 disebutkan tentang urgensi harta dalam kehidupan. Allah SWT berfirman : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. (QS An Nisa 5).  Sementara itu, kaitannya dengan kemuliaan,  sahabat Ibnu Abbas RA juga mengakui hal tersebut menjadi bagian kemuliaan seseorang di dunia, ia mengatakan : “Mulianya seseorang di dunia adalah karena kaya. Namun mulianya seseorang di akhirat karena takwanya.” (Lihat: Tafsir AlBaghowi).

Pandangan banyak orang tentang ilmu dan harta sebagai indikator kemuliaan juga beragam. Dan terkadang kemudian memberi jarak yang begitu jauh antara keduanya, seolah-olah kedua hal tersebut teramat sulit untuk digabungkan. Bahkan lebih ekstrim lagi terkadang dengan menggeneralisir bahwa semua yang berharta cenderung untuk meninggalkan “ilmu” dalam arti kesalehan dan ketakwaan. Kita sering diberikan pernyataan sekaligus pertanyaan yang aneh : “lebih baik miskin taat daripada kaya maksiat”. Agar tidak terjebak pada logika yang keliru di atas, mari kita kaji lebih jauh bagaimana sesungguhnya Islam memandang antara ilmu dan harta, sebagai salah satu sarana sekaligus indikator menuju kemuliaan sang insan.

Empat Tingkatan Manusia
Rasulullah SAW memberikan ilustrasi yang sangat indah tentang manusia dilihat dari kedudukannya dalam ilmu dan harta, beliau bersabda : ”Perumpamaan umat ini bagaikan empat orang.

Orang pertama: adalah seorang yang dikaruniai Allah harta dan ilmu. Dengan ilmunya ia mengatur harta sehingga bisa mengalokasikannya dengan benar.

Orang kedua: adalah seorang yang dikaruniai Allah ilmu, namun tidak dikaruniai harta. Dia berkata, ”Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang pertama), niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya”. Rasulullah SAW bersabda, ”Pahala dua orang tersebut sama”.

Orang ketiga: adalah seorang yang dikaruniai Allah harta namun tidak dikaruniai ilmu. Dia bertindak asal-asalan dalam hartanya, menghamburkannya tanpa aturan.

Orang keempat: seorang yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu. Ia berujar, ”Andaikan aku memiliki harta seperti fulan (orang ketiga); niscaya akan kugunakan seperti apa yang dilakukannya”. Rasulullah SAW, ”Dosa keduanya sama”. (HR. Ahmad)

Hadits di atas secara umum sebenarnya menjelaskan tentang urgensi niat. Bahwasanya dengan niat yang baik akan mendapat pahala, dan sebaliknya niat yang buruk juga bisa berakibat dosa. Tapi disisi lain, hadits di atas juga mengisyaratkan beberapa hal tentang kemuliaan ilmu dan harta jika berpadu dalam diri seorang muslim. Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil, diantaranya :

Pertama : Bahwa sangat ideal ketika kekayaan dan ilmu itu bertemu pada seseorang. Ia akan mempunyai nilai kemanfaatan yang begitu luas. Ia berinfak dengan hartanya, mengajarkan ilmunya, serta mengelola keuangannya dengan cara yang halal dan produktif. Ini adalah tingkatan tertinggi, yang semestinya setiap insan beriman berupaya untuk meraihnya, yaitu ilmu dan harta.

Kedua : Bahwasanya kekayaan itu tidak berarti apa-apa di sisi Allah SWT jika tidak didukung dengan ilmu pemiliknya. Karena ia akan menggunakannya dengan sia-sia, atau bahkan dalam kemaksiatan dan transaksi yang tidak halal. Kaya saja tidak dengan sendirinya bisa disebut mulia dan beruntung, tetapi harus didukung dengan ilmu. Hal ini bersesuaian dengan ajaran Islam yang tidak mengingkan kekayaan ada pada orang yang tidak berilmu. Dari Amru bin Ash, Rasulullah SAW bersabda : ” Sebaik-baik harta adalah yang ada di tangan laki-laki shalih ” ( HR Ahmad)

Ketiga :  Bahwasanya ilmu tanpa kekayaan tetaplah mulia. Ia bisa terus mengajarkan kebaikan, dan juga meniatkan berbuat baik atau bersedekah ketika harta itu akhirnya datang juga.

Mulia dengan Ilmu dan Harta
Kita bisa melihat bagaimana Islam tidak memisahkan antara ilmu dan harta sebagai salah satu indikator kemuliaan, selama dipenuhi syarat-syaratnya. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah SAW bersabda : ” Tidak boleh iri (hasad) kecuali pada dua orang (yaitu) ; laki-laki yang diberikan harta oleh Allah, kemudian ia menggunakannya dengan baik dan benar, dan laki-laki yang diberikan hikmah (ilmu) oleh Allah, maka ia menghukumi dengannya dan mengajarkannya (HR Muttafaq ‘alaih)

Hadits di atas sama-sama memotivasi kita untuk menjadi orang kaya di satu sisi, dan menjadi orang berilmu di sisi yang lain. Diawal hadits saja telah disebutkan dengan tegas, bolehnya iri atau ingin menjadi dua orang yang disebutkan di atas.

Namun sekali lagi, kemuliaan ilmu dan kemuliaan harta ternyata juga harus diikuti dengan pemenuhan kewajiban-kewajibannya. Mempunyai ilmu harus berani mengajarkan, sementara mempunyai harta berarti harus berani menggunakannya di jalan yang benar serta menginfakkannya. Pada sisi ini, berarti antara kaya dan berilmu posisinya netral, sama-sama berpotensi untuk mulia, atau juga hina jika tidak menjalankan kewajiban-kewajiban terkait apa yang dimilikinya.

Bertemunya ilmu dan harta juga bisa kita lihat dengan mudah pada generasi sahabat, hingga keberadaan mereka yang sibuk beramal dan bersedekah membuat sebagian orang-orang miskin madinah sempat iri dan khawatir tidak akan kebagian pahala.

Keresahan kaum fakir madinah akan ketinggalan pahala ini direkam dengan baik oleh sahabat Abu Dzar al Ghifari, beliau mengatakan : “ beberapa orang dari sahabat Nabi SAW (yang miskin) berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pahala (yang banyak), mereka shalat bagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.” (HR Muslim).  Hadits di atas kembali mengingatkan betapa kemuliaan itu bisa tercipta dengan indah saat ilmu dan harta bisa menyatu pada diri seorang insan.
Semoga kita semua mampu mewujudkannya. Wallahu a’lam bisshowab

Hatta Syamsuddin

Sumber : Ayolebihbaik

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.