Thursday, 6 December 2018

Reuni 212, Apa Yang Menggerakkan Mereka?

Sangat jarang saya menangis,tapi Jumat, 2 Desember 2016 silam, beberapa kali saya tak bisa membendung desakan air mata yang keluar dari kedua bola mata ini. Rasa haru terus menyelimuti sepanjang aksi.

Diawali saat baru tiba di lokasi. Usai mobil diparkir dekat Tugu Tani, saya langsung disambut oleh ibu-ibu yang memberikan makanan.

“Pak ini diambil snacknya buat sarapan,” kata seorang ibu berjilbab sambil membawa kardus berisi makanan.

Air mata menetes. Di pagi hari mereka bersusah payah hanya untuk membagikan penganan sarapan. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?


Saat berjalan perlahan menuju Monas, saya melihat anak-anak usia SMP dengan kepala berbalut tuliskan mujahid melangkah dengan semangat diiringi pekik takbir. Tubuh mereka mungil tapi ayunan kaki dan teriakan mereka jauh melebihi ukuran badannya. Air mata ini kembali menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Ada pula bapak-bapak yang rambutnya telah memutih. Mereka tampak kuat dan berjalan mantap menuju Monas. Kepala mereka pun diikat dengan kain bertuliskan Aksi Bela Islam 3. Lagi-lagi air mata menetes haru. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Di depan Balaikota DKI Jakarta, saya ditawari salak pondoh oleh dua orang lelaki yang datang dari Temanggung, Jawa Tengah.

“Ayo Pak diambil salaknya,” ujar seorang lelaki.

Sekali lagi saya tak mampu membendung air mata ini. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Lalu tepat di samping pintu masuk Lapangan Monas, ada tawaran layanan charger HP gratis.

“Siapa yang HP nya lowbatt, silakan mencharger disini…..gratis,” teriak seorang lelaki muda.

Ya Allah, disaat mereka sebenarnya bisa meraup keuntungan dengan jasa yang mereka tawarkan, tapi mereka justru tak ingin dibayar. Air mata ini menetes. Gerangan apa yang menggerakkan mereka?

Episode tangis haru saya mencapai puncaknya saat Sholat Jumat. Hujan yang mengguyur tak mampu membuat jutaan umat yang hadir bubar. Mereka tetap khusyuk sambil menahan dingin yang menusuk tulang.

Ya Robb, apa sesungguhnya yang menggerakkan ini semua?

Saya lalu teringat dengan kisah Perang Badar. Kala itu, malam terus merambat. Rasa lelah mendera pasukan Muslim. Rasa kantuk yang hebat datang menyerang. Hujan yang turun di gelapnya malam membuat pasukan tak kuasa menahan kantuk. Mereka tertidur ditemani perlengkapan perang yang menempel di tubuhnya.

Abu Thalhah sebagaimana diriwayatkan Ahmad berkisah.

“Rasa kantuk menyerang kami sementara kami masih berada dalam barisan pada waktu Perang Badar. Aku termasuk salah satu yang terkantuk. Tidak terasa pedangku terjatuh dari genggamanku, lalu aku memungutnya. Terjatuh lagi dan aku memungutnya. Setelah itu aku berdiri dengan perasaan malu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu.”

Kemudian turunlah firman Allah swt:

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan engkau mengantuk sebagai suatu penentraman dariNya dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu (QS. Al Anfal:11)

Malam itu Allah swt menurunkan hujan sangat deras sehingga menghalangi pasukan musyrik untuk menyerang. Anehnya, kaum Muslim merasakan hujan itu seperti gerimis yang sangat mensucikan mereka: hujan yang melenyapkan gangguan setan, mengukuhkan tempat berpijak, memadatkan tanah, menegakkan kaki yang berdiri dan menyatukan hati (Zaadul Ma’ad)


Bisa jadi banyak yang nyinyir dan menganggap sangat lebay menyamakan kisah hujan di Monas dengan di Badar. Bahkan, jika tak turun hujan pun, masih banyak orang yang menghina kita karena ikut aksi.

Tapi begitulah cara Allah membedakan yang haq dan bathil. Penistaan agama oleh Ahok membuka kedok siapa yang sesungguhnya berada dalam barisan Islam dan musuh kaum muslimin. Bukankah Perang Badar juga disebut Yaumul Furqan? Hari Pembeda antara kebenaran dan Kebathilan?

Disanalah Umar bin Khaththab membunuh pamannya Al Ash bin Hisyam. Abu Bakar berhadapan dengan anaknya Abdurrahman. Lalu paman Nabi saw Abbas bin Abdul Muthalib ditahan pasukan muslimin. Saat itu, hubungan kekerabatan putus. Yang tersisa hanyalah kalimat iman mengalahkan kalimat kufur.

Sepertinya, inilah cara Allah yang hendak menjadikan kita sebagai pasukan Badar di akhir zaman ini yang dipimpin oleh ulama-ulama panutan umat: Ust Bachtiar Nasir, Habib Riziq Shihab, Ust Arifin Ilham hingga Aa Gym.

Bukankah almarhum KH Hasyim Muzadi di akhir hayatnya pun menyebut peristiwa 212 layaknya Badar?

Wallahua’lam bishshowab

Erwyn Kurniawan

Presiden Reli

sumber : ngelmu

Artikel Terkait

Seorang yang berusaha hidup benar dan bermanfaat, Dengan cara menjadi Manusia yang PROAKTIF bukan REAKTIF. Berharap berakhir dengan khusnul khotimah.